Jumat, 25 Januari 2008

Membangun Sekolah Kristiani

Membangun sekolah kristiani hendaknya diletakkan dalam jalur gerakan kenabian, agar sekolah kristiani setia pada visi misi dasar, dengan bergulat menumbuhkembangkan benih-benih kebenaran, kebaikan dan keindahan dalam diri peserta didik. Hubungan pendidik dan peserta didik hendaknya menjadi tempat tumbuhnya benih-benih tersebut. Selamat berjuang! Salam doa, n Berkah Dalem,

3 komentar:

Johannes Pujasumarta mengatakan...

Majalah HIDUP, No. 10 Th. ke-62, 9 Maret 2008, hal. 17:
Sekolah sebagai Seminarium
Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan Agung Semarang (KAS) menggelar pertemuan kepala sekolah dan guru agama Katoli SMA/SMK Katolik se-KAS di Rumah Retret Panti Samdhi, Gedanganak, Ungaran, Jawa Tengah, Jumat-Sabtu, 22-23/2.
Pertemuan bertujuan menggali semangat Kekatolikan agar sekolah-sekolah Katoli makin mampu menghasilkan lulusan yang bersemangat Kristiani. Artinya, semakin menyerupai Kristus, dalam hal berasa, berpikir, dan bertindak.
Penggalian semangat tersebut juga merupakan upaya menjawab perkembangan zaman (globalisasi) yang telah menyeret kaum remaja ke dalam konsumerisme, hedonisme, materialisme, dan ateisme praktis.
Sebanyak 85 peserta hadir dalam kesempatan tersebut. Mereka berasal dari Kevikepan Semarang, Kedu, Yogyakarta, dan Surakarta. Pastor Ag. Luhur Pihadi Pr dan Pastor J. Pujasumarta Pr hadir sebagai pembicara.
Pastor Prihadi menyoroti peran anak dan remaja dalam pengembangan iman umat sesuai Nota Pastoral KAS 2008. Sekolah-sekolah Katolik diharapkan mempu mengantar anak dan remaja untuk semakin mengenal Kristus, memahami pokok iman Gereja, dan mempertanggungjawabkan imannya secara dewasa. "Mereka harus mampu belajar menyesuaikan hidupnya dengan hidup Yesus, mengembangkan kebeningan hati nurani, dan belajar merakan kerahiman Allah dalam tobat," tegasnya.
Sedang Pastor Pujasumarta menegaskan agar sekolah-sekolah Katolik mengembangkan paradigma baru pendidikan di Indonesia dan menghayati spiritualitas kristiani dalam dunia pendidikan. Bekerja secara profesional, mencintai dengan hati yang tulus demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia dengan mengoptimalkan otak (head), hati (heart), dan tangan (hand).
"Sekolah-sekolah Katolik hendaknya menjadi seminarium, yaitu tempat benih-benih tumbuh dan akhirnya menghasilkan lulusan yang punya relasi kuat dengan Allah, mampu menilai tanda-tanda zaman, melayani seperti Kristus, menjadi pemersatu, dan rela berkorban bagi orang lain," harap Pastor Pujasumarta.
Pastor Pujasumarta juga menegaskan spiritualitas "Lima Roti dan Dua Ekor Ikan." Spiritualitas tersebut mengajak anak dan remaja untuk menghayati semangat berbagi dan peka terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka (anak dan remaja) sejak awal harus menyadari dan mengalami bahwa mereka merupakan bagian dari umat.
Hal itu ditunjukkan lewat keterlibatan mereka di lingkungan, ambil bagian dalam liturgi dan tugas perutusan. Iman harus diungkapkan dalam liturgi dan diwujudkan dalam tindakan berbagi. Inilah tantangan dan panggilan sekolah-sekolah Katolik di tengah arus desa globalisasi.
Sementara itu, Ketua MPK KAS, Radno Harsanto Msi berharap, seluruh sekolah Katolik bersinergi untuk menampilkan citra sekolah Katolik. Penampilan itu, tidak hanya dengan pemasangan salib di dinding kelas dan pelajaran agama. Melainkan dengan cara memberikan kontribusi yang positif bagi pergumulan bangsa dalam menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. I. Wawang Setyawan.
Demikianlah naskah tulisan I. Wawang Setyawan. Salam doa, n Berkah Dalem,

Alberto Hartana SJ mengatakan...

romo pujasumarta, apakah makalah "membangun sekolah kristiani" boleh saya "cuplik", bagikan kepada para guru Kanisius di DIY????? Mohon ijin . (Rm. Albert Hartana SJ)

Johannes Pujasumarta mengatakan...

OK, Rama, silakan! Naskah tersebut saya sampaikan pada berbagai macam pertemuan dengan guru-guru Katolik dan Kristen, atau guru-guru Katolik dan Kepala Sekolah yang diselenggarakan oleh MPK KAS. Salam doa, n Berkah Dalem,