Sabtu, 17 April 2010

Tahbisan Uskup Diosesan Keuskupan Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng Ruteng, 14 April 2010

TAHBISAN USKUP DIOSESAN
KEUSKUPAN RUTENG

Mgr. Hubertus Leteng
Ruteng, 14 April 2010
 
Berikut catatan perjalanan dari Rm Paulus Wirasmohadi Soerjo, Pr (Rm Didiek), Vikjen Keuskupan Bandung, yang bersama dengan Rm Antonius Sulastijana , Pr (Rm Anton), ekonom KB, mewakili Keuskupan Bandung, menghadiri tahbisan Mgr. Hubertus Leteng

Senin, 12 April 2010
Pk. 05.10 diantar Sdr. Alex, Rm. Anton Sulastijana dan saya berangkat menuju bandara Husein – Bandung. Check in berjalan sedikit lambat karena petugas mengalami sedikit masalah, mungkin karena ada ketidak sesuaian antara foto KTP dan wajah penumpang. Di KTP terpampang Brad Pitt tapi yang tampak adalah Bred Pott alias wajah yang belepotan karena banyak rumput liar tumbuh di sebagian wajah tak berdosa (yang berdosa bukan wajahnya) . Namun, akhirnya semua beres.

Pk. 10.10 pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Ibu Dian dan 2 anaknya yang diantar mas Wawan sudah datang menjemput. Mereka akan menampung 2 musafir yang terlantar untuk semalam saja karena pesawat yang akan membawa kami ke Labuan Bajo akan berangkat esok harinya, Selasa pagi jam 09.00. Jadi hukumnya wajib kami berangkat hari ini dan menginap di Denpasar. Untunglah ada keluarga yang mau dengan senang hati menerima kami di rumah mereka sehingga Keuskupan Bandung diringankan bebannya .

Kami diajak mengisi bahan bakar yang istimewa, sup ikan yang segar dengan rasa yang nikmat membuat sehat dan segar badan yang penat karena malam sebelumnya hanya tidur sesaat (Rm. Anton mengaku tidur sekitar jam 01.00 tapi tidak bisa nyenyak, saya mengaku tidur jam 01.30, tapi tidur cukup nyenyak walau harus terbangun karena alarm terlanjur disetel jam 04.15).

Setelah itu kami diajak langsung ke rumah untuk beristirahat sejenak. Ajakan yang saya sambut dengan antusias, karena mata sudah sulit diajak kompromi.

Setelah istirahat beberapa jenak (lebih dari sejenak ) kami berjalan (persisnya bermobil) lagi dengan keluarga lengkap - minus pak Benny (jadinya tidak lengkap) – karena kepala keluarga sedang mengemban tugas berat menjadi KorAsPri (Koordinator Asisten Pribadi) Kapolda. Perjalanan diawali dengan wisata kuliner, makan Bakso Tulang Babi dan Sate Plecing, dua makanan yang membuat rambut dan jenggot menari-nari saking nikmatnya .

Selesai menikmati makanan kami diajak berkeliling melewati museum, bekas Kerajaan Badung .Sekitar Pk. 19.30 kami sudah masuk rumah kembali, supaya bisa cukup beristirahat untuk perjalanan panjang esok harinya.

Selasa, 13 April 2010
Pk 07.30 kami sudah tiba di Bandara Ngurah Rai sesuai kesepakatan dengan Bp Frans yang mengurus dan membawa tiket kami. Check-in dilakukan sekitar pk 08.00. Pk. 07.45 Bp Frans dan rombongan berangkat bersama-sama menuju Labuanbajo datang. Saat check-in ada hal yang sungguh menarik dan baru pertama kali saya alami yaitu selain penimbangan bagasi, dilakukan juga penimbangan penumpang beserta tas yang akan dibawa ke cabin. Hal ini dilakukan mengingat Bandara Komodo, Labuan Bajo memiliki landasan yang tidak terlalu panjang. Kelebihan berat akan membahayakan, karena pengereman membutuhkan panjang landasan yang cukup. Rombongan yang berangkat hari sebelumnya mengalami sedikit masalah, dan tidak semua barang yang dibawa bisa diangkut karena sudah melebihi batas yang diperbolehkan.

Syukurlah rombongan kami hari ini tidak mengalami persoalan, semua penumpang dan barang yang dibawa tidak ada yang perlu ditinggal, mungkin karena Mgr. Leopoldo Girelli, Nuntius Apostolik, Mgr. Martin D. Situmorang OFM.Cap juga berangkat hari ini .




Pk. 10.30 kami mendarat di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Panitya mempersiapkan sambutan dengan upacara tradisi yang menarik. Pertama-tama Nuntius, para Bapak Uskup, Administrator Diosesan dan yang mewakili para Bapak Uskup menerima peci yang menggunakan bahan tradisional. Setelah itu pidato penyambutan oleh Panitya. Nuntius dimohon menyentuh, mengusap sebuah botol unik yang berisi anggur putih yang melambangkan kesucian, supaya yang datang selalu dijaga dan dilindungi dari yang jahat. Dengan hati, pikiran yang bersih umat katolik dan masyarakat ingin menyambut kedatangan para tamu agung dengan penuh kegembiraan dan dengan hati serta pikiran yang bersih, supaya segala mara bahaya dijauhkan.
Setelah itu rombongan pemusik dan penari mengantar kami menuju ruang tunggu sambil menunggu semua bagasi siap.



Pk. 11.10 kami menuju kediaman resmi Bupati Manggarai Barat. Di sini dilakukan juga upacara penyambutan dengan tradisi setempat. Sebotol anggur putih dan seekor ayam jantan putih digunakan kembali. Keduanya merupakan lambang yang selalu digunakan untuk menyambut tamu agung. Setelah itu dilanjutkan dengan santap siang bersama. Yang utama adalah santap siang, obrolan panjang lebar perlu ditunda karena jam 12 kami harus berangkat ke Ruteng. Konvoi rombongan dipimpin Patwal pembuka jalan dan diakhiri juga oleh Patwal supaya perjalanan lancar. Panitya mencoba mengatur supaya 1 mobil berisi 4 orang, 1 sopir dan 3 tamu. Namun, karena ada yang belum terdaftar di panitya Tahbisan Uskup maka saya berada bersama 4 tamu lain (Mgr. Anicetus Sinaga OFM.Cap, Mgr. John Liku Ada’a, Rm. Widyo MSC dan Rm. Sigit) dan 1 sopir.
Pk. 15.10 kami tiba di Rumah Uskup, di sana sudah disiapkan juga upacara penyambutan. Nuntius, para Bapak Uskup, Administrator Diosesan dan para wakil Bapak Uskup dikalungi kain berbentuk stola. Setelah itu pidato penyambutan, sama dengan upacara sebelumnya yaitu dengan menggunakan seekor ayam jantan putih dan sebotol anggur putih. Sama dengan sebelumnya pidato disampaikan dengan menggunakan bahasa daerah.

Setelah upacara penyambutan kami diantar ke tempat menginap yaitu di biara-biara. Rm. Anton kebagian menginap di biara suster Misericordia, sedangkan saya kebagian menginap di biara Suster-suster SSpS AP, suster SSpS kontemplatif Adorasi abadi atau sering dikenal juga dengan suster-suster pink karena mereka menggunakan jubah pink.

Tarekat Suster SSpS AP ini adalah Tarekat Ketiga yang didirikan St. Arnoldus Janssen setelah Serikat Sabda Allah (SVD) yang didirikan pada tanggal 8 September 1875 dan serikat biarawati “Suster-suster Abdi Roh Kudus” (SSpS = Congregatio Servarum Spiritus Sancti) pada tanggal 8 Desember 1889 SVD. Serikat biarawati “Suster-suster Abdi Roh Kudus Penyembah Abadi” (SSpS AP = Congregatio Servarum Spiritus Sancti de Adoratione Perpetua) didirikan pada tanggal 8 Desember 1896. Ketiga serikat tersebut didirikan di Steyl - perbatasan Belanda-Jerman.


Mgr. B. Pujarahardja, Mgr. Yos Suwatan, MSC, Mgr. Agustinus Agus dan Mgr. Frans Kopong Kung juga menginap di sana. Setelah mandi, membersihkan badan dan jiwa, berganti pakaian dan menyiapkan hati, kami langsung menuju Katedral untuk mengikuti Salve Agung dan Pemberkatan Insigna. Salve Agung dipimpin oleh Mgr. Michael Angkur OFM didampingi Mgr. Sensi, Mgr. Silvester San serta Nuntius Apostolik, Mgr. Leopoldo Girelli. Kami (Mgr. Yos Suwatan, MSC dan saya) datang terlambat, pas Mgr. Silvester San sedang berkotbah.


Dalam kotbahnya Mgr. San mengungkapkan bagaimana seorang gembala menggembalakan kawanan dombanya, menjadi gembala bagi semua dengan sikap yang adil. Keluarga perlu mendukung dengan “membiarkan” Mgr. Hubertus Leteng menggembalakan dan tidak membebani dengan persoalan keluarga. Mgr. Hubert Leteng, orang yang sederhana, tekun dan konsisten. Hal itu tampak dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pada saat rame-rame orang menggunakan terapi urine untuk kesehatannya, Mgr Hubert Leteng termasuk salah seorang diantaranya. Namun, pada saat orang mungkin sudah bosan dan tidak mau lagi melakukannya, Mgr Hubert Leteng sampai sekarang masih tekun dan setia melaksanakannya.

Jadi, Mgr. Hubert Leteng itu masih sehat sampai sekarang karena tekun dan setia manjalankan terapi urine karena Mgr. Hubert Leteng bukan orang yang senang berolahraga, mendengar hal itu gereja katedral penuh dengan suara orang tertawa. Kalau Mgr. Hubert Leteng belum terlalu dikenal banyak umat itu wajar karena beliau belum pernah bertugas di paroki, selama menjadi imam selalu bertugas dalam bidang pendidikan, formatio di seminari.

Dalam Salve Agung ini Mgr. Hubert Leteng mengungkapkan Iman dengan mengulangi Syahadat Para Rasul dan juga sumpah Kesetiaan kepada Tahta Suci dengan meletakkan tangan kanan di atas Kitab Suci yang dipegang oleh Mgr. Leopoldo Girelli sebagai Wakil Bapa Suci di Indonesia. Setelah itu dilakukan penandatanganan dokumen yang menyatakan, bahwa Mgr. Hubert Leteng sudah melaksanakan prasyarat sebelum menerima Sakramen Tahbisan Episkopat. Dokumen tersebut ditandatangani oleh Mgr. Hubert Leteng, Mgr. Michael Angkur, OFM, Mgr. Sensi Potokota, Mgr. Silvester San dan Mgr. Leopoldo Girelli. Setelah itu dilakukan pemberkatan atribut uskup oleh Mgr. Sensi Potokota.

Rabu, 14 April 2010
Perayaan Penahbisan Uskup dilaksanakan di Lapangan terbuka yang sudah dipasang “tenda”. Lapangan Kantor Bupati dipilih karena cukup luas. Panitya menyediakan 15.000 kursi untuk umat awam dan religius, sedangkan untuk imam disediakan 1.000 kursi. Bagian awam dan religius penuh, bahkan kursi yang disediakan tidak mencukupi sehingga ada yang harus menerima untuk berdiri di luar tenda, sedangkan bagian imam masih cukup banyak yang kosong. Jumlah imam yang hadir diperkirakan sekitar 600 orang. Di antara kursi umat dan panti imam masih ada jarak yang lumayan lebar, space itu disiapkan untuk tari-tarian adat yang memeriahkan Perayaan Ekaristi Penahbisan Uskup.


Pk. 09.00 perarakan dimulai dari kantor Bupati, supaya tidak terlalu panjang para imam berjajar 4, jajaran 2 dimulai dari para Vikep. Ketika tiba di tempat perayaan, umat bertepuk tangan menyambut Uskup baru, tari-tarian dan lagu yang indah yang mengungkapkan kegembiraan turut menyambut perarakan. Beberapa lagu lain dalam Perayaan ini juga diiringi tarian yang mengungkapkan pujian bukan hanya dengan suara tapi juga dengan gerak tubuh. Perayaan Tahbisan ini dipimpin oleh Mgr. Kherubim Pareira, SVD didampingi Mgr. Hilarion Datus Lega dan Mgr. Sensi Potokota.

Dalam homilinya Mgr. Datus Lega menyampaikan bagaimana seorang Uskup menjadi gembala bagi semua berdasarkan moto Mgr. Hubert Leteng: “Kalian semua adalah saudara”. Keinginan Mgr. Hubert Leteng untuk menjadi saudara bagi semua sangat kuat, dengan menjadi saudara fungsi penggembalaan akan berjalan lebih mudah. Umat, religius dan para imam diundang untuk semakin mewujudkan persaudaraan, supaya hidup Gereja Keuskupan Ruteng juga bisa semakin berkembang.

Liturgi penahbisan yang berlangsung khidmat ditutup dengan ungkapan ketaatan para imam diosesan Keuskupan Ruteng dan imam religius yang berkarya di wilayah Keuskupan Ruteng dengan berlutut dan mencium cincin Uskup Ruteng yang baru, Mgr. Hubertus Leteng.

Berkat perdana sebagai uskup dilakukan dengan mendatangi para saudara yang hadir, berkeliling dari satu bagian ke bagian yang lain. Keinginan untuk mendatangi orang lain ditampakkan dengan “bolak-balik”, mungkin karena ada yang terlewatkan dan setelah diingatkan maka kembali lagi ke area yang semula sudah dilewati.

Perayaan Penahbisan berjalan meriah, paduan suara bernyanyi merdu, para penari mengungkapkan kegembiraan dalam gerak yang senada dengan lagu yang dinyanyikan. Perayaan Ekaristi Penahbisan Uskup juga dinaungi udara cerah padahal hari-hari sebelumnya, bahkan sampai malam sebelumnya pun masih hujan. Rupanya banyak yang berdoa mohon supaya hujan tidak turun pada saat perayaan. Doa ini terkabul, hujan turun rintik-rintik sebentar menjelang akhir dan berhenti menjelang perayaan berakhir pada pk. 14. Sungguh besar karya Tuhan dalam Perayaan ini.

Pk. 18.30 Nuntius, para Bapak Uskup, Administrator Diosesan dan para wakil Bapak Uskup diundang santap malam di rumah dinas Bapak Bupati Manggarai. Setelah makan malam sebagian besar langsung menuju Labuan Bajo karena pesawat ke Denpasar akan berangkat pk. 09.00. Rm. Anton dan saya juga ikut berangkat karena besok pagi berencana mengunjungi saudara. Rm. Anton naik bus mini sedangkan saya kebagian berangkat lebih dulu bersama Mgr. Leopoldo Girelli karena diminta panitya untuk menemani berhubung dari panitya yang sebelumnya bertugas (Rm. Siprianus Hormat) menemani beliau tidak bisa ikut karena esok harinya akan mengikuti Perayaan Ekaristi Pontifikal.

Kami berangkat pk. 20.00, Patwal membuka jalan mobil yang ditumpangi Nuntius, sesudahnya diikuti mobil ambulance. Pk. 00.30 kami tiba di Hotel Jayakarta yang sudah disiapkan panitya.

Kamis, 15 April 2010
Sekitar Pk. 08.00 rombongan Nuntius, para Bapak Uskup dan Romo yang akan “tek op” meninggalkan Hotel Jayakarta. Sedangkan kami, Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF, Rm. Riyana Prapdi, Rm. Moses Komela, Rm. Romanus E. Harjito, O.Carm, Rm. Thomas Almasan , Rm. Anton Sulastijana dan saya akan menengok para saudara, sesama mahluk ciptaan Tuhan yang tinggal di Pulau Rinca. Sekitar pk. 09.30 kami dijemput rombongan pak Frans yang sudah memesan kapal yang lumayan besar.

Merapat di dermaga Pulau Rinca kami “disambut” oleh 3 saudara kera yang rupanya memang menunggu pengunjung datang karena berharap akan mendapat rejeki untuk hari ini, yaitu makanan secukupnya. Dari dermaga kami masih harus berjalan sekitar 1 km di bawah terik matahari yang menyengat. Syukurlah kami sudah mempersiapkan diri dengan berkaos lengan panjang dan bertopi bulat yang ternyata cukup membuat terlindung. Maklumlah, kulit yang gelap menyerap panas.

Kami mengikuti rute yang pendek, cukup untuk melihat kehidupan saudara-saudara Komodo. Mereka berdarah dingin, tidak tahan dengan panas terik matahari, maka banyak yang berteduh di bawah rumah panggung. Sekilas tampak seperti binatang jinak yang bermalas-malasan, tetapi kami tidak boleh sembarang mendekat karena bisa terjadi serangan mendadak. Selain yang melihat yang berbaring di bawah rumah panggung, kami berjalan menuju “hutan”, tempat bertelur.

Udara yang panas dengan matahari yang menyengat membuat kami merasa cukup untuk melihat yang dekat, tidak sampai ke sumber air yang didatangi kerbau liar dan juga komodo yang berlindung dan siap mengejar bila terlihat mangsa lemah. Komodo memangsa sampai tuntas, bahkan tulang pun dimakannya, kecuali tengkorak kepala dan tanduk kerbau yang sangat keras. Pencernaan komodo sangat luar biasa, yang keluar tetap dalam keadaan utuh adalah rambut, sedangkan yang lain hancur, bahkan tulang pun hancur dan keluar dalam kotoran yang berwarna putih. 











 

7 komentar:

meily blumenkohl mengatakan...

tfs GBU

Wiek weningtyas mengatakan...

Proficiat dan selamat berkarya.

Martin Teiseran mengatakan...

Siiiippp benar laporan ini, foto foto juga lengkap dan bagus, Mgr Pujasumarta. Terima kasih sudah membagi kegembiraan dan Berkat Dalem.

robertus sugiharto mengatakan...

selamat berkarya...semoga Tuhan senantiasa menyertai. GBU

Johannes Pujasumarta mengatakan...

Mgr. Hubert Ytk.,

Sekali lagi proficiat saya haturkan kepada Mgr. Kisah peristiwa membahagiakan tahbisan Uskup Ruteng, 14 April 2010, sudah diceritakan oleh Rama Didiek, Vikjen kami. Sudah saya pasang pada weblog MP saya. Silakah click: http://pujasumarta.multiply.com/photos/album/117/_Tahbisan_Uskup_Diosesan_Keuskupan_Ruteng_Mgr._Hubertus_Leteng_Ruteng_14_April_2010.

Setelah pengumuman Mgr menjadi Uskup Ruteng, telah saya tulis beberapa artikel, yang saya pasang juga di weblog saya:

1. Mgr. Hubertus Leteng, Uskup Keuskupan Ruteng (1)

2. Mgr. Hubertus Leteng, Uskup Keuskupan Ruteng (2)

3. Mgr. Hubertus Leteng, Uskup Keuskupan Ruteng (3)

Selamat bekerja! Salam, doa ‘n Berkat Tuhan,

+ J. Pujasumarta

Maxi Bona mengatakan...

Mgr Puja, terima kasih atas laporannya. Kami umat keuskupan Ruteng di rantaun bisa mengikuti peristiwa penting ini lewat laporan-laporan seperti ini. semoga Tuhan selalu menuntun Gereja-Nya hingga selama-lamanya. Amin

john paul mengatakan...

I have been visiting various blogs for my dissertation research. I have found your blog to be quite useful. Keep updating your blog with valuable information... Regards