Sabtu, 26 Maret 2011

BUDAYA JARI-JEMARI “DRIJITAL CULTURE”

Hari Studi Unio KAS
Selasa-Rabu, 23-24 Maret 2011
Teologi dan Misiologi Naratif

 
Refleksi tentang

BUDAYA JARI-JEMARI
“DRIJITAL CULTURE”


Oleh Ibu Maria Kadarsih

Dalam kelompok kami hadir Ibu Maria Kadarsih, mantan penyiar RRI Yogyakarta, yang kondang sebagai penulis sandiwara radio pada waktu itu. Saya meminta Ibu Maria Kadarsih mengembangkan refleksi tentang budaya jari-jemari ini. Digital culture disebutnya dalam bahasa Jawa “DRIJITAL CULTURE”. Ibu Maria Kadarsih menyampaikan refleksinya sbb.:


Tuhan menganugerahkan tubuh kepada manusia dengan tujuan yang amat baik,  agar memberikan kebaikan.

Refleksi jari-jemari dalam budaya universal, budaya Jawa, serta daya guna bagi umat Kristiani :

1. Jempol/Ibu jari :

a. Secara universal jempol atau ibu jari dipergunakan untuk mengungkapkan/meng-ekspresi-kan sesuatu yang baik antara lain :
•        Mengungkapkan pujian dan kekaguman (hebat, luar biasa, indah dsb.) dengan ibu jari yang diangkat tinggi. Bahkan kadang dengan kedua ibu jari ” two thumbs up ”
•        Memberi tanda semua beres, semua berjalan lancar, semua on the track dengan ibu jari.

b.     Dalam budaya Jawa ibu jari/jempol dipergunakan sebagai bahasa isyarat untuk mempersilahkan seseorang yang dihormati menuju/me-nempati tempat yang semestinya (yang lebih terhormat).

Dalam budaya seni tari Jawa, hampir semua tarian dibuka atau diawali dengan gerakan nyembah yaitu menyatukan kedua telapak tangan dimana jempol bersatu/berhimpitan dan disentuhkan pada hidung.Hal ini sebagai simbol dalam hidup ini menyembah Tuhan YME sesuatu yang utama.

c.  Sebagai orang Katolik jempol atau ibu jari dipergunakan sebagai ungkapan memuliakan dan menghormat Tuhan terutama saat konsekrasi pada Doa Syukur Agung. Ketika Imam mengangkat Piala (Tubuh dan Darah Kristus), maka ketika itu umat menghormat,  dan bersyukur dengan menyatukan kedua tangan kita dalam posisi ibu jari menyatu (sembah) dan mengangkatnya menyentuh hidung.

Orang Katolik memuliakan dan menghormat Tuhan tidak hanya ketika ke gereja, ketika Doa Syukur Agung berlangsung, tetapi setiap saat, bahkan 24 jam, dalam bentuk Doa. Maka sebagai orang Katolik, ibu jari  atau jempol baik kiranya dimaknai sebagai anugerah Tuhan untuk mengingatkan kita selalu berdoa. Berdoa adalah kewajiban utama dan pertama. Tuhan Yesus sendiri memberi teladan berdoa.

•        Doa adalah berkomunikasi dengan Allah (hubungan dua individu yang saling mencintai )
•        Doa adalah Ungkapan kehidupan Iman; Mengangkat hati pada Tu-han; Menyatakan diri sebagai anak Allah;  Kata cinta anak kepada Bapanya, sehingga dapat dilakukan kapan saja setiap saat.Karena Allah bisa dihubungi setiap saat,kapan saja.Dimana saja, tak terkecuali.
•        Doa adalah nafas hidup, ungkapan kehidupan iman, rasa syukur dan permohonan, sebab  kita orang berdosa.

” Ingat jempol !  Ingat  berdoa ! ”

2.     Jari Telunjuk :

a. Secara universal Jari telunjuk dipergunakan sebagai tanda ”perhatian”
Ketika seseorang dipanggil namanya dalam suatu pertemuan, ketika seseorang ingin menyampaikan usul, atau ketika seseorang menunjuk sesuatu, yang digunakan adalah jari telunjuk.

b. Dalam Budaya Jawa jari telunjuk sebagai ungkapan menunjuk orang lain dengan posisi jari tengah,jari manis dan kelingking ke-arah diri sendiri, dan dikunci oleh ibu jari atau jempol, sedangkan ibu jari menunjuk ke ”yang ditunjuk”. Masyarakat Jawa memaknainya, sebelum seseorang menunjuk (nuding) kesalahan orang lain, hendaklah ia lebih dulu meneliti diri sendiri sebanyak tiga kali. Hal ini karena ketika kita menunjuk orang lain, ada tiga jari lain menunjuk diri sendiri.

Dalam budaya seni tari Jawa, jari telunjuk disatukan dengan ibu jari membentuk formasi ”nyempurit” dipergunakan pula sebagai ungkapan menjelaskan sesuatu.

c. Sebagai orang Katolik jari telunjuk sebagai peringatan pula bagi kita untuk Membaca Kitab Suci. Orang Katolik yang baik adalah yang hidupnya sesuai dengan sabda-Nya. Sabda atau petunjuk hidup orang Katolik adalah Kitab Suci. Maka membaca Kitab Suci sebagai kewajiban yang kedua, setelah berdoa.

Ketika kita membaca kitab suci yang kita pergunakan untuk menunjuk huruf-huruf kecil dalam kitab Suci adalah jari telunjuk, bukan jempol atau yang lain. (boleh dicoba).

Makna lainnya, dalam hidup ”meng-Gereja” Jari Telunjuk meng-ingatkan kita, agar jangan menunjuk orang lain atau melimpahkan tugas kepada orang lain, sebelum anda sendiri tiga kali mengerjakan tugas itu. Misal : nunjuk temannya tugas Lektor. Anda sendiri pernah tidak ? Paling tidak 3x .

    ” Ingat jari telunjuk, ingat Baca Kitab Suci ”

3.     Jari Tengah :

a.      Secara universal jari tengah dipergunakan sebagai ungkapan kekecewaan. Bahkan ungkapan kejengkelan yang ”jorok”.

b.     Dalam budaya Jawa, jari tengah disebut ”tumunggul” yang paling panjang diantara jari-jari yang lain. Tumunggul dimaknai yang paling kuat, tetapi ia harus melindungi empat jari lainnya. Tugas melindungi itu dapat dilakukan dengan baik, jika jari tengah itu, bisa bersosialisasi dengan ke-empat jari lainnya.

Dalam dunia seni tari, jari tengah atau tumunggul yang disatukan dengan jempol/ibu jari, akan membentuk formasi yang disebut ”ngithing’, yang berfungsi untuk mengambil sampur, maupun gerakan ulap-ulap yaitu gerakan yang menggambarkan seseorang tengah mematut diri. Maknanya jari tumunggul menjadi tumpuan dalam memikul beban, maupun memperbaiki hidup.

c.     Sebagai orang Katolik, jari tengah atau jari tumunggul sebagaimana juga masyarakat Jawa, tumunggul diartikan sebagai yang paling kuat dan paling panjang, yaitu tugas bersatu dalam komunitas. Bersatu dengan komunitas keluarga, di tempat kerja, di gereja, dalam paguyuban-paguyuban dan dalam masyarakat, merupakan kewajiban ketiga setelah berdoa dan membaca Kitab Suci. Bagaimana orang Katolik melaksanakan sabda-Nya sesuai yang termaktub dalam Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang Katolik hadir dan bersedia ikut memanggul beban untuk perbaikan hidup dalam keluarga,paguyuban maupun masyarakat.

” Ingat jari tengah, ingat bersosialisasi dalam komunitas ”

4.  Jari Manis
    
a. Secara universal, jari manis dimaknai sebagai jari yang istimewa. Dalam budaya barat, cincin perkawinan dikenakan di jari manis. Bahkan bukan hanya cincin perkawinan saja yang dikenakan di jari manis, tetapi cincin lainpun, cincin perhiasan, akan lebih manis jika dikenakan di jari manis. Bukan di jari yang lain.

b.  Dalam budaya Jawa, jari manis juga didudukkan sebagai jari yang memiliki peran sebagai pemersatu. Maka di jari manis itu pula masyarakat Jawa mengenakan cincin pengikat. Fungsi mengikat itu, dimulai saat pertunangan. Ketika bertunangan, cincin dipakai di jari manis tangan kiri, sedangkan sesudah menikah cincin dipakai di jari manis tangan kanan.
    
Dalam dunia seni tari, jari manis menyatukan diri dengan jari telunjuk, jari tengah dan kelingking membentuk formasi ”ngruji” sebagai gerakan yang mengungkapkan keinginan melihat dan mewaspadai segala sesuatu yang ada disekelilingnya.

c.     Sebagai orang Katolik, jari manis juga dipilih sebagai tempat dikena-kan cincin pertunangan dan perkawinan. Juga cincin Mgr. J. Pujasumarta sebagai Uskup juga diagem di jari manis. Cincin yang berbentuk bundar bersambung tanpa putus menggambarkan bahwa perkawinan Katolik tidak terceraikan, sekali untuk selama-lamanya, hanya kematian yang mampu memisahkan mereka. Itu dapat terwujud apabila satu sama lain saling setia, dan bersedia saling melayani satu sama lainnya.

Semangat setia dan melayani itulah yang  patut dimiliki oleh orang Katolik, dalam kehidupan sehari-hari.

 ” Ingat jari manis, ingat setia dan melayani ”

4.     Jari Kelingking.

a.      Secara universal, jari kelingking tidak banyak dipergunakan sebagai simbol. Tetapi secara umum, jari kelingking dipergunakan untuk hal-hal yang sifatnya”membersihkan” sesuatu. ( Maaf : membersihkan telinga/cureg, membesihkan hidung/upil).

b.     Dalam budaya Jawa, jari kelingking disebut juga jenthik, yang menggambarkan bentuk fisiknya yang paling kecil diantara jari-jari lainnya. Meski begitu dalam permainan anak jenthik yang kecil itu, mampu mengalahkan jempol/ibu jari yang besar, tetapi jenthik juga kalah oleh jari telunjuk.

Dalam dunia seni tari, jari kelingking atau jenthik didudukkan sebagai pelengkap semua gerakan tangan, mulai ” ngithing, nyempurit, nge-pel dan ngruji”. Ini menggambarkan bahwa meski bentuknya kecil, jenthik  tetap menjadi bagian dari seluruh jari tangan tersebut.

c.     Sebagai orang Katolik, mengemban tugas perutusan. Di akhir setiap perayaan Ekaristi, Imam selalu menutup dengan ”Marilah kita pergi, kita diutus”, dan dijawab oleh umat: ”Amin”. Karena tugas perutusan disampaikan dibagian akhir misa, seakan-akan tugas perutusan itu hanya tugas yang kecil atau tidak penting.

Maka jari kelingking yang bentuk fisiknya paling kecil itu, sebagai ungkapan perutusan bagi orang Katolik. Meski kecil, atau sedikit yang dapat kita lakukan untuk mewartakan Kerajaan Allah, tetapi tugas perutusan ini menjadi bagian hidup orang Katolik.

Ingat kelingking/jenthik, ingat Perutusan ”

Kesimpulan :

Jika ingin menjadi Orang Katolik Sejati, ia harus mampu hidup secara seimbang dengan menggunakan Jari-Jemari sebagai sarana Refleksi.

1. Ibu Jari/jempol   : Berdoa
2. Jari Telunjuk      : Membaca Kitab Suci
3. Jari Tengah        : Bersosialisasi dengan Komunitas
4. Jari Manis         : Setia dan Melayani
5. Jari Kelingking   : Melaksanakan Perutusan.


from Maria Kadarsih to Pujasumarta
date Sat, Mar 26, 2011 at 11:01 AM

Lihat:

1. WAWANCARA – “ROH KEKATOLIKAN” DALAM DRAMA RADIO SEORANG WANITA AWAM, 14 Mei 2007 15:26, http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=4027;

2. Berita dari UCA News (Union Of Catholic Asian News) - Kantor Berita Katolik Asia

 

Jumat, 25 Maret 2011

Hari Studi Unio KAS: Teologi dan Misiologi Naratif

Hari Studi Unio KAS
Selasa-Rabu, 23-24 Maret 2011
Teologi dan Misiologi Naratif



Selasa, 23 Maret 2011, jam 17.00 mulai diselenggarakan Hari Studi Unio KAS. Rama Nurwidi Pr, selaku Ketua Tim Updating Unio KAS,  mengawali Hari Studi dengan berbicara tentang Arah Dasar KAS yang telah mulai dirintis sejak tahun 1984 untuk masa berlaku lima tahunan. Beriman dalam konteks budaya mengandaikan inkulturasi iman, suatu bentuk dialog dengan budaya. Pengembangan iman didukung oleh perumusan iman (teologi sistimatik) dan kisah beriman (teologi naratif). Untuk mengembangkan dinamika spiral hidup beriman  ada upaya untuk "Necep Sabda, Neges Karsa dan Ngemban Dhawuh".  Konon Bapak Sarikrama ketika ketemu Rama Frans van Lith agar sakit korengnya disembuhkan, pada waktu kembali ke Kalibawang dibekali oleh Rama Frans van Lith sebuah Kitab Suci dalam huruf Jawa. Pesan Kitab Suci itulah yang diwartakannya kepada teman-temannya.                                         

Rama Indra Sanjaya, Pr, dosen Kitab Suci FTW,  mengantar kami dengan pemaparan makalah tentang Misiologi Naratif.  Dikatakannya,  narasi menyentuh pengalaman konkrit yang melibatkan pendengar,  mempertajam gagasan, dan menantang orang bersikap. Narasi adalah  sarana menyampaikan pesan. Dikutipnya pernyataan almarhum Johannes Paulus II,  "Penyajian Yesus Kristus kiranya dapat datang sebagai pemenuhan dambaan-dambaan, yang diungkapkan dalam mitologi-mitologi dan folklore bangsa-bangsa Asia" (JP II - EAs 20).              

Pemaparan tersebut kemudian ditanggapi oleh beberapa peserta rama-rama Unio KAS. Yang hadir 62 rama Unio dari berbagai paroki di KAS ini.Hadir pula utusan KAS untuk SAGKI 2010 yang mengolah tema Gereja yang berdialog dengan aneka budaya, dengan berbagai umat beragama, dan dengan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir.                                                

Demikian sekilas info dari tempat kejadian peristiwa di aula pertemuan Hari Studi Unio di Rumah Retret Sangkalputung, Klaten, yang akan berlangsung sampai Rabu, 24 Maret 2011.                                             
Pada kesempatan diskusi kelompok Rabu, 24 Maret 2011, dalam kelompok kami pembicaraan sampai pada “digital culture”, yang kami mengerti sebagai “budaya jari-jemari”. Dalam era komunikasi ini kita hidup dalam budaya digital. Dari jari-jemari kita kita dapat belajar kearifan hidup.

Mengapa cincin kesetiaan dipasang pada jari manis? Jawabannya dapat ditemukan dengan peragaan tangan-tangan yang kita kepalkan, lalu kita pertemukan kedua tangan kanan dan kiri tersebut. Coba bukalah kedua ibu jari! Dapat dibuka, kan? Dua telunjuk, dua  jari tengah, dan dua kelingking dapat dibuka. Dan sekarang cobalah membuka dua jari manis! Dua jari manis tetap terpadu, dan tidak dapat dibuka. Cincin kesetiaan dipasang pada jari manis tersebut karena memuat pesan, apa yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan oleh manusia.

Dalam kelompok kami hadir Ibu Maria Kadarsih, mantan penyiar RRI Yogyakarta, yang kondang sebagai penulis sandiwara radio pada waktu itu. Saya meminta Ibu Maria Kadarsih mengembangkan refleksi tentang budaya jari-jemari ini.


Salam, doa 'n Berkah Dalem,            

Klaten, 24 Maret 2011

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Rabu, 23 Maret 2011

Mgr. Antonio, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia

Selamat datang, Mgr. Antonio,

Duta Besar Vatikan untuk Indonesia!


 
Mgr. Antonio Guido Filipazzi


Bapa Suci Paus Benediktus XVI telah menunjuk Yang Mulia menjadi Duta Besar Vatikan untuk Indonesia pada tanggal 23 Maret 2011 (http://www.catholic-hierarchy.org/bishop/bfilipaz.html).

Duta Besar Vatikan, Nuntius Apostolik, Mgr. Antonio Guido Filipazzi, lahir di Melzo, Milano, 8 Oktober 1963. Ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 10 Oktober 1987, pada Keuskupan Ventimiglia, San Remo, Italia. Laureat dalam Hukum Kanonik. Masuk dalam pelayanan diplomatik pada Tahta Suci, 1 Juli 1992, dan selanjutnya secara berturut-turut mewakili Tahta Suci dalam bidang hubungan  dengan negara-negara di Sri Lanka, Austria. Nuntius fasih berbicara dalam bahasa Inggris, Jerman, Perancis dan Spanyol (http://www.romaregione.net/2011/01/10/sutri-viterbo-mons-antonio-guido-filipazzi-nominato-arcivescovo-titolare-di-sutri-2/).


 
La foto pubblicata non ritrae mons. Filippazzi,
ma mons. Guido Marini, Maestro delle Cerimonie Liturgiche del Sommo Pontefice.

Syukur kami atas 50 tahun hirarki Gereja Katolik  Indonesia menjadi lengkap dengan kehadiran Yang Mulia di tengah-tengah kami umat Katolik dan bangsa Indonesia.

Selamat bekerja!

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

Semarang, 24 Maret 2011

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Jumat, 18 Maret 2011

DALAM HATIMU

DALAM HATIMU

Yesus hadir dalam hatimu.
Biarkanlah dua hati bertemu: hatimu dan hati Yesus
dalam keheningan yang menciptakan ketenangan hati.



Yesus,  hatiku  tenang
Hatiku  tenang  dalam hatiMu
Yesus  Kristus,  dalam hatiMu
Hatiku  tenang dalam hatiMu


Silakan click: http://www.youtube.com/watch?v=VfA3HyDEIFY


Selasa, 15 Maret 2011

RIP : AMBROSIUS KASIDI

Requiescat In Pace
AMBROSIUS KASIDI


 
Telah menghadap Bapa dengan tenang

BAPAK AMBROSIUS KASIDI
pada hari Selasa, 15 MARET 2011, Jam 07.00 WIB
di  RS Elisabeth, Ganjuran



Karena pengabdian yang dilakukan oleh Bp. Kasidi, Bapa Suci Yohanes Paulus II menganugerahkan Bintang Jasa "Pro Ecclesia et Pontifice", tertanggal 11 Februari 1995 :



IOANNES PAULUS II PONT. MAXIMUS


auguste crucis insigne

PRO ECCLESIA ET PONTIFICE

egregia opera studioque conspicuis praecipue constitutum

D.no Ambrosio Kasidi
decernere et largiri dignatus est,
eidem pariter facultatem faciens sese
hoc ornamento decorandi
ex aedibus Vaticanis,
die 11 Februarii MCMXCV

Jaya  Suprana atas nama Museum Rekor Indonesia menyampaikan penghargaan kepada Bapak Amrosius Kasidi sebagai pengemudi KAS terlama.


Rekor Indonesia
Piagam Penghargaan

MUSEUM REKOR INDONESIA

Dianugerahkan kepada

Ambrosius Kasidi

atas Prestasi Pengemudi Keuskupan Agung
Terlama 1959 s.d. 1994 (35)
Semarang, 10 Februari 1995,
Jaya Suprana.

Misa Requiem dilaksanakan pada hari Rabu, 16 Maret 2011, jam 12.00 di Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran; dan sesudahnya dimakamkan pada jam 14.00 di makam Kaweden, tidak jauh dari tempat kediaman keluarga.

Beliau adalah pensiunan karyawan Keuskupan Agung Semarang yang selama pengabdiannya bertugas sebagai driver khusus Uskup dari tahun 1959 s.d. 1994 (35 th).

Berikut para Uskup yang pernah beliau layani :

1.Mgr. A. Soegijapranata, SJ
2.Mgr. J. Darmojuwono
3.Mgr. A. Djajasiswaja
4.Mgr. J. Darmaatmadja, SJ
5.Mgr. J. Hadiwikarta



Mohon doa, agar Bapak Kasidi beristirahat dalam damai Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan tabah menerima peristiwa tersebut sebagai peristiwa iman.

Terimakasih, Bapak Kasidi, atas pengabdianmu kepada Keuskupan Agung Semarang. Ati-ati, ya.  Selamat jalan, semoga selamat sampai ke tempat tujuan.

Salam, doa 'n Berkah Dalem,

Yogyakarta, 14 Maret 2011

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Senin, 14 Maret 2011

RUA APTIK XXVIII : Arah Perkembangan Gereja Katolik Indonesia

PEMBUKAAN RAPAT UMUM ANGGOTA
ASOSIASI PERGURUAN TINGGI KATOLIK XXVIII

 
“Arah Perkembangan
Gereja Katolik Indonesia
Pada Masa yang Akan Datang”


Senin-Kamis, 14-17 Maret 2011
di Semarang, Jawa Tengah

Senin, 14 Maret 2010, pada jam 15.30 di kapel Unika Soegijapranata (Soepra) dimulai perayaan Ekaristi mengawali Rapat Umum Anggota Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik XXVIII (RUA APTIK XXVIII) yang dipimpin oleh Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ,  Ketua Komisi Pendidikan KWI, didampingi oleh Rama Paul Suparno , SJ dan saya. Saya mendapat tugas untuk menyampaikan homili.  Seusai misa para peserta berbondong-bondong ke Ruang Sidang pemuka RUA di Gedung Theater Thomas Aquinas, Unika Soepra, Semarang. RUA ini diikuti oleh  110 peserta dari 17 Perguruan Tinggi Katolik yang tersebar di seluruh Indonesia. RUA  yang akan selesai pada tanggal 17 Maret 2011 mengolah tema:  “Arah Perkembangan Gereja Katolik Indonesia Pada Masa yang Akan Datang”. Jangan sampai kita melupakan semboyan yang menyemangati kita untuk berjuang “Pro Ecclesia et Patria”.  
                                       
Dalam homili saya sampaikan beberapa butir permenungan saya tentang Peranan Perguruan Tinggi Katolik dalam Penentuan Arah Perkembangan Gereja Katolik Indonesia Pada Masa yang Akan Datang. Peranan itu saya letakkan dalam rangka syukur atas 50 tahun Hirarki Gereja Katolik Indonesia. Pendirian Hirarki Gereja Katolik Indonesia merupakan satu mata rantai momen-momen sejarah kemandirian Gereja Katolik Indonesia.

Di Keuskupan Agung Semarang awal abad XX ditandai dengan pendirian Sekolah Guru di Muntilan oleh Rama Van Lith, dan sekolah-sekolah dasar dan menengah. Sementara itu muncul kesadaran juga bahwa Gereja Katolik perlu didukung oleh tenaga-tenaga pribumi (imam, bruder dan suster). Kesadaran bahwa anak-anak pribumi dapat menjadi imam, dipicu oleh peristiwa  sederhana. Rama Van Lith,  SJ seorang pendidik yang cerdas dan visioner bercita-cita bahwa anak-anak didiknya juga cerdas, beriman tangguh yang berani mengatakan yang benar itu benar, yang salah itu salah. Pada waktu itu ada protes di antara murid-murid konvik Muntilan, yang disampaikan kepada Rama Van Lith. Anak-anak minta agar Rama Mertens, SJ, Rama Rektor, diberi jatah kotbah lebih banyak, karena bahasa Jawanya lebih mudah difahami. Terhadap usulan tersebut Rama Van Lith tidak marah, dan berkata kepada mereka, "Tentu saja begitu, karena  saya kan orang Belanda, tunggu saja nanti kalau ada imam Jawa (pribumi)". Kata-kata tersebut mencerahkan kesadaran mereka, bahwa anak-anak pribumi bisa menjadi imam.  

Gagasan memulai sekolah pendidikan iman mulai tumbuh, dan didirikan Seminari Kecil, cikal bakal Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang.  Kita bersyukur atas 100 tahun Seminari Menengah tersebut.  Untuk melanjutkan pendidikan imam pada pendidikan lanjut kemudian, Mgr. Willekens, SJ mendirikan Seminari Tinggi Santo Paulus, yang sekarang bertempat di Kentungan, Yogyakarta. Kita bersyukur atas 75 tahun Seminari Tinggi tersebut.  Setelah Indonesia merdeka, awal paruh kedua abad XIX  gagasan berkembang untuk mendirikan Perguruan Tinggi Katolik. Didirikanlah cikal bakal Universitas Parahyangan, Bandung, dan disusul oleh Universitas Sanata Dharma, yang terlibat dalam pendidikan seutuhnya untuk mencerdaskan bangsa.

Peristiwa-peristiwa tersebut  semakin memperkuat kesadaran akan kemandirian Gereja Katolik Indonesia.  Para waligereja Indonesia kemudian memohon kepada Tahta Suci agar didiriikan hirarki Gereja Katolik Indonesia. Permohonan tersebut disetujui oleh Bapa Suci Yohanes XXIII mengeluarkan konstitusi apostolik  “Quod Christus Adorandus”, 3 Januari 1961. Kita bersyukur atas 50 tahun Hirarki Gereja Katolik Indonesia. Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi tanda jelas bahwa Gereja Katolik yang hadir di Indonesia itu sungguh menjadi Gereja Katolik Indonesia.

Pada Sidang Tahunan KWI, November 2010, dilaporkan kebutuhan anggur misa untuk keperluan perayaan Ekaristi.  Selama ini kebutuhan tersebut dipenuhi dengan mengimport anggur misa dari Australia. Muncullah gagasan untuk mandiri dalam penyediaan anggur misa. Gagasan tersebut berkembang, dan melibatkan banyak pihak, antara lain pihak Perguruan Tinggi, untuk mengadakan studi kemungkinan untuk secara mandiri memenuhi kebutuhan tersebut. Rama Paulus Wiryono, SJ, Rektor USD, sangat anthusias menanggapi gagasan tersebut, dan bahkan  merencanakan untuk mengadakan workshop budidaya dan pembuatan anggur misa pada tgl 30 April 2011.

Hosti telah dibuat oleh berbagai komunitas hidup bakti untuk mencukupi kebutuhan perayaan Ekaristi. Anggur direncanakan dapat disediakan juga secara mandiri.  Peristiwa ini merupakan tanda signifikan kemandirian Gereja Katolik di Indonesia yang berkehendak untuk menjadi Gereja Katolik Indonesia. Hosti dan anggur merupakan bahan pokok untuk perayaan Ekaristi yang menjadi sumber dan puncak hidup beriman. Perguruan Tinggi Katolik sangat berperan dalam Penentuan Arah Perkembangan Gereja Katolik Indonesia Pada Masa yang Akan Datang.

Pada acara pembuka RUA disampaikan beberapa sambutan, a.l. Mgr. Aloysius Sudarso. Sebagai tanda pembuka RUA APTIK Mgr. Aloysius Sudarso , SCJ memukul gong. Acara tersebut  dimeriahkan dengan tarian dan suguhan suara Gracia Voice Vocal Group Unika Soepra, yang menyanyikan beberapa lagu. Penampilan mereka sungguh mempesona para peserta.

Demikianlah sekilas info tentang  acara pembuka RUA XXVIII APTIK, Senin, 14 Maret 2011, di Semarang, Jawa Tengah.

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

Semarang, 14 Maret 2011

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang









Gambang Semarang

Ampat penari kian kemari
jalan berlenggang, aduh…
Langkah gayanya menurut suara
irama gambang

Sambil bernyanyi, jongkok berdiri
kaki melintang, aduh…
Sungguh jenaka tari mereka
tari berdendang

Reff:
Bersuka ria, gelak tertawa
semua orang
kar’na hati tertarik gerak-gerik
si tukang gendang

Ampat penari membikin hati
menjadi senang, aduh…
itulah dia malam gembira
Gambang Semarang

Selasa, 08 Maret 2011

Waspada dan Berjagalah Senantiasa!

Waspada dan Berjagalah Senantiasa!



Berita:

Saya memperoleh berita dari Yogyakarta (Senin, 7 Maret 2011), ada informasi yang menerangkan, bahwa pada hari Rabu, 9 Maret 2011, akan diadakan aksi massa sekelompok orang di Yogyakarta untuk menyampaikan tuntutan, agar Ahmadiyah dibubarkan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sekelompok orang itu telah menyatakan kecaman terhadap Sri Sultan (Bdk. http://news.okezone.com/read/2011/03/06/340/431891/fpi-jateng-tuding-sultan-lindungi-aliran-sesat).

Aksi massa tersebut akan dilakukan di Gedung DPR RI, dan Gubernuran, dan penyegelan kantor Pusat Ahmadiyah di Jl. Atmosukarto, sebelah timur Kridosono, pada jam 15.00. Massa akan melewati gereja-gereja Kotabaru, Baciro, Piyungan yang berada di kampung Ahmadiyah.

Hari Rabu tersebut bagi umat Katolik merupakan hari Rabu Abu, awal masa puasa; dan menurut rencana hari Rabu itu juga akan diadakan Kebangunan Rohani Kristiani (KRK) oleh sekolompok orang Kristiani dalam rangka perayaan Natal di Kridosono, pada jam  16.00.

Berbagai kemungkinan bisa terjadi:

1.    Aksi massa akan terjadi pada hari dan waktu sesuai dengan apa yang diberitahakan.

2.    Aksi massa akan terjadi pada hari dan waktu dengan apa yang diberitahakan.
 namun dengan peta jalan yang berbeda dari apa yang diberitakan.

3.    Aksi massa  tidak akan terjadi pada hari dan waktu seperti apa yang diberitakan. Dan akan ditentukan hari dan waktu lain, yang tidak akan diberitahukan lebih dahulu.

4.    Aksi massa akan terjadi pada waktu yang ditentukan.

5.    Aksi massa sekedar berita.


Antisipasi terhadap aksi massa tersebut:

1.    Kewaspadaan perlu ditingkatkan menghadapi semua alternative tersebut.

2.    Menghadapi alternative 1, sekarang ini semua pihak (masyarakat dan semua pihak yang bertanggungjawab) terhadap keamanan dan keselamatan masyarakat perlu mewaspadi tanda-tanda yang menunjukkan akan terjadinya aksi massa tersebut. Setiap kerumunan massa harus diwaspadai dan dicurigai. Waspada terhadap senjata yang memperlengkapi orang-orang yang menjadi bagian dari massa tersebut (misalnya: kelewang, pedang, celurit, batu). Pihak keamanan berwajib melucuti senjata itu demi keamanan masyarakat. Jalan-jalan menuju sasaran amuk massa perlu diamankan.

3.    Bila alternative 1 tidak terjadi, kewaspadaan harus tetap dijaga, karena alternative lain masih sangat mungkin terjadi.

Bila ada perkembangan seputar berita rencana Aksi Masa tersebut di Yogyakarta, hendaknya disampaikan kepada kami.

Karena itu, waspada dan berjagalah senantiasa, sebab kamu tidak mengetahui kapan saatnya tiba.


Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

Semarang, 8 Maret 2011
+ Johannes Pujasumarta

DEVOSI KEPADA MARIA, BUNDA GEREJA UNTUK PERTOBATAN INDONESIA

DEVOSI KEPADA MARIA, BUNDA GEREJA
UNTUK PERTOBATAN INDONESIA

Bunda Maria Temanggung


Tahukah Anda? Nenek Minah asal Banyumas  divonis 1,5 bulan kurungan penjara karena mencuri 3 buah kakao.  Dengan wajah tuanya yang sudah keriput dan tatapan kosongnya nenek Minah harus duduk di kursi pesakitan. Untuk datang ke sidang kasusnya ini nenek Minah harus meminjam uang Rp.30.000,- untuk biaya transportasi dari rumah ke pengadilan yang memang jaraknya cukup jauh. Sementara para penjahat bank Century, yang mencuri lebih dari lima trilyun, belum satupun dihukum. Ketika kita sedang merayakan hari toleransi antar agama, justru sekelompok orang merusak rumah ibadah di Temanggung, bahkan membunuh orang lain yang berbeda agama di Banten.

Pada saat pemerintah dan banyak organisasi mengajak menanam pohon untuk menjaga kelestarian alam, sementara itu pembalakan liar terus dibiarkan berlanjut. Masih banyak hal-hal ironis di negeri kita yang menyengsarakan rakyat kecil. Celakanya semua itu terkesan tidak ditangani secara serius, atau bahkan dibiarkan saja dan ditutup-tutupi. Keadaban publik di negeri ini tampaknya sudah berantakan.

Ini negara yang saya dulu percayai, negara yang katanya berlandaskan hukum. Atas nama Indonesia, saya dulu pergi ke forum internasional Global Changemakers. Atas nama Indonesia, saya mengikutisummer course di Montana. Untuk Indonesia, saya memiliki ide dan mengajak teman-teman menyelenggarakan Indonesian Youth Conference 2010. Indonesia yang sama yang membiarkan ketidakadilan menggerogoti penduduknya. Indonesia yang sama yang membiarkan siapapun mengkambinghitamkan orang lain ketika berbuat kesalahan, selama ada uang. Indonesia yang sama yang menghancurkan mimpi-mimpi saya. (Alanda Kariza, 19 Tahun dalam www.alandakariza.com)

Di atas adalah jeritan seorang remaja atas ketidakadilan bagi ibunya. Masih banyak kisah sedih dimana keadilan di negara kita semakin menjadi impian di siang bolong. Kesantunan antara warga masyarakat hanya di bibir saja.  Sementara para petinggi negeri ini banyak melakukan kebohongan publik. Sampai kapan situasi dan kondisi hidup yang menyesakkan ini harus terjadi ?

Banyak usaha nyata yang telah dibuat oleh berbagai kelompok dan perorangan dalam rangka menuju Indonesia yang lebih baik, dan itu semua perlu dilanjutkan sampai terjadi pertobatan sejati. Karena itu kami mengajak seluruh umat untuk melengkapi usaha-usaha yang telah dilakukan dengan berdoa KEPADA MARIA, BUNDA GEREJA UNTUK PERTOBATAN INDONESIA, setiap hari baik secara pribadi maupun bersama-sama. Melalui doa ini kita, sebagai umat beriman, menyatukan hati agar rahmat perubahan yang diberikan oleh Tuhan berbuah menjadi aksi nyata  menuju Indonesia yang lebih manusiawi. Doa yang mengalir dari iman akan didengarkan oleh Allah.


 
Doa yang mengalir dari iman akan didengarkan oleh Allah


AJAKAN

Marilah, setiap hari, mulai Rabu Abu 9 Maret 2011 berdoa bagi pertobatan Indonesia, bagi Indonesia yang lebih baik dan lebih sejahtera. Kita dapat berdoa secara pribadi maupun di dalam kelompok, komunitas, lingkungan, stasi  Bisa juga didoakan setelah Perayaan Ekaristi harian atau pada hari Sabtu/Minggu.

DOA DEVOSI

B: Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus (Amin)

P: Marilah berdoa untuk pertobatan Indonesia

P: ” Tidak mungkin mengasihi Allah yang tak kelihatan, jika tidak mengasihi   saudaranya yang kelihatan.” (Mat 22: 34-40)

B: Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu...“Ya Allah, bebaskanlah bangsa kami  dari perbudakan keserakahan”

P: “Berbahagialah yang membawa damai, sebab dia disebut anak Allah” ( Mat 5:9)

B: Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu...
“Ya Allah, bebaskanlah bangsa kami dari perbudakan keserakahan"

P: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.” (Luk 1:38)

B: Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu...

“Ya Allah, bebaskanlah bebaskanlah bangsa kami dari perbudakan keserarakahan"

B: Kemuliaan pada Bapa, dan Putera dan Roh Kudus seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad.

Amin.



• Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau KWI • Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan Indonesia • Komunitas JAKSIA – Komunitas KAY-BRMKY   Jl. Cikini 2 No. 10 JAKARTA 10330

Sabtu, 05 Maret 2011

RETRET AGUNG “PER MARIAM AD IESUM”

RETRET AGUNG 
“PER MARIAM AD IESUM”



Keuskupan Agung Semarang


Saudari-saudaraku terkasih dalam Tuhan,

Mengakhiri Surat Gembala Pra-Paska 2011 Keuskupan Agung Semarang saya menyampaikan ajakan saya,  “Sebagai orang Katolik sejati, marilah kita juga bersedia diantar oleh Maria, bunda Allah dan bunda Gereja, kepada Yesus, “per Mariam ad Iesum”. Maria telah menjadi teladan beriman kita. Seluruh hidupnya telah menjadi kesempatan untuk menyimpan segala peristiwa dan merenungkannya dalam hatinya. Setiap kali kita berdoa rosario, dalam sinar peristiwa-peristiwa Tuhan: gembira, terang, sedih dan mulia,  kita diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri sebagai peristiwa-peristiwa keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah sendiri.” 

Yang diharapkan terjadi selama 40 hari itu saya utarakan, “Dalam waktu 40 hari masa Pra-Paska, dengan berdoa dan berpuasa, kita masuk ke dalam misteri hidup, sengsara dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, pokok keselamatan dan andalan hidup kita. Di dalam misteri Kristus  kita tenggelamkan hidup kita dengan segala dimensinya, dalam realitas konkrit, dalam jaringan relasi segala arah. Dengan kekuatan Roh Kudus yang kita sadari bekerja dalam diri kita, kita akan menjadi semakin siap untuk menjadikan hidup kita  berkat bagi yang lain, terutama bagi mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.”

Melalui media ini saya tawarkan cara sederhana, agar retret agung tersebut dapat dilakukan di tengah kesibukan kerja yang padat. Tentu sangat berguna menyisihkan waktu untuk berdoa hening dalam hari-hari kehidupan kita. 24 jam sehari, 7 hari seminggu telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dan agar keseimbangan hidup terjadi ada satu hari Tuhan, “Dies Dominica”, yang kita khususkan untuk Tuhan. Kenyataannya, di antara pekerjaan-pekerjaan kita ada waktu untuk hening tersebut. yang kita luangkan untuk  Tuhan. Dalam bahasa Latin biasa disebut “vacare Deo”.

Selama retret ini kita didampingi, dan diantar oleh Maria agar semakin dekat mengikuti Yesus, semakin dalam mengenal-Nya, dan semakin mesra mencintai-Nya dengan berdoa ROSARIO.  Sebut saja retret jenis ini dengan nama “RETRET AGUNG  PER MARIAM AD IESUM”.  Sambil mendaraskan rosario, kita renungkan peristiwa-peristiwa hidup, sengsara dan kebangkitan Tuhan: Peristiwa Gembira, Peristiwa Terang, Peristiwa Sedih, dan Peristiwa Mulia.

Sepanjang hidup kita pun kita alami peristiwa-peristiwa serupa. Dalam meditasi tentang peristiwa-peristiwa hidup kita, kita dapat menemukan, mengakui, melukiskan peristiwa-peristiwa tersebut dengan penuh syukur karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Lukisan peristiwa-peristiwa hidup dapat dikembangkan menurut cara seorang wartawan melengkapi berita, dengan menjawab WHAT ?, WHO?,  WHEN?,  WHERE?  WHY?, HOW?.

Langkah-langkah:

PERSIAPAN:

1.    Hadirlah pada perayaan Ekaristi hari Sabtu/Minggu menjelang Rabu Abu. Dengarkan baik-baik Surat Gembala Pra-Paska yang ditulis untuk mengantar umat memasuki masa persiapan merayakan Paska Kristus. Biasanya Uskup diosesan menulis Surat Gembala Pra-Paska yang dibacakan bagi umat.

2.    Hari-hari berikutnya menjelang Rabu Abu digunakan untuk mempersiapkan diri, agar hati terbuka terhadap bimbingan Roh Kudus untuk melaksanakan retret ini.

3.    Siapkan beberapa perlengkapan untuk retret, misalnya: Kitab Suci, Rosario, Buku untuk membuat Catatan Harian Retret Agung Per Mariam Ad Iesum, alat tulis, dll.

4.    Hadirlah pada perayaan Ekaristi Rabu Abu, untuk menerima abu, tanda pengingat bahwa kita  manusia berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.

PELAKSANAAN:

1.    40 hari Retret Agung Per Mariam Ad Iesum kita isi dengan doa ROSARIO, sambil merenungkan peristiwa Yesus dan peristiwa kita dalam dua hari, secara berkelanjutan sampai selesai. Satu peristiwa direnungkan dalam dua hari, dengan membanding-bandingkan peristiwa Yesus dan peristiwa kita. Dua hari pertama dimulai dengan renungan peristiwa gembira 1. a. Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel (Luk 1:26-38), yang dibandingkan dengan renungan peristiwa gembira kita 1. b. Ibu saya menerima kabar gembira bahwa saya dikandungnya, misalnya. Begitu seterusnya sampai 20 peristiwa Yesus dan peristiwa kita selesai direnungkan selama 40 hari

2.    Renungan dimulai dengan doa singkat untuk menghaturkan syukur kepada Tuhan, dan mohon rahmat agar dapat merenungkan bahan retret dengan baik.

3.    Dalam ulah rohani ini kita kenal langkah-lagkah rohani untuk “necep sabda, neges karsa, ngemban dhawuh”. Langkah-langkah itulah yang dapat kita lakukan untuk mengisi masa Pra Paska kita menjadi masa retret agung.


a.    Dalam langkah “necep sabda”, kita buka telinga kita untuk mendengarkan sabda Allah, yang bersabda melalui Kitab Suci. Sabda itu terasa manis karena meneguhkan perbuatan baik kita, namun sabda itu bisa pahit kalau mengkritik perbuatan salah kita. Seharusnya sebagai orang Katolik sejati kita biarkan daya kekuatan sabda itu mengubah hati kita.

b.    Dalam langkah “neges karsa” kita menjajagi apa kehendak Tuhan bagi hidup kita, membeda-bedakan mana kehendak Tuhan, mana kehendak kita; dan kemudian menegaskan bahwa kehendak Tuhanlah yang harus kita utamakan dalam kehidupan kita.


c.    Dalam langkah “ngemban dhawuh”, kita bangun kehendak hati dan budi kita karena kita bertekad melaksanakan kehendak Tuhan “ngemban dhawuh Dalem  Gusti” dalam kehidupan kita.

4.    Bahan renungan: peristiwa-peristiwa dalam doa rosario dan peristiwa hidup kita: Peristiwa Gembira; Peristiwa Terang; Peristiwa Sedih; Peristiwa Mulia (Lihat. http://id.wikipedia.org/wiki/Doa_Rosario)


5.    Catatlah butir-butir renungan dalam Catatan Harian Retret Agung Per Mariam Ad Iesum. Akan sangat bermakna bagi pengembangan hidup rohani, bila buah renungan tersebut dapat di-sharing-kan dengan teman/sahabat kepercayaan.

6.    Hadirilah pertemuan-pertemuan pendalaman iman umat selama masa Pra-Paska. Barangkali bila ada pertemuan pendalaman iman umat lingkungan, buah-buah renungan tersebut dapat di-sharing-kan pula sesuai situasi dan kondisi.

Silakan menggunakan waktu retret agung selama 40 hari untuk mengikuti Yesus Tuhan kita semakin dekat, mengenal-Nya semakin dalam, dan mencintai-Nya semakin mesra.

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

Semarang, 5 Maret 2011

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang


Kamis, 03 Maret 2011

RIP: Rama Sebastianus Ismu Haryanto, Pr

Requiescat In Pace
Rama Sebastianus Ismu Haryanto, Pr




Telah dipanggil Tuhan Rama Sebastianus Ismu Haryanto, Pr
pada hari Kamis, 3 Maret 2011, pada jam 08.05
di  Gedangan, Semarang

Kamis, 3 Maret 2011, jam 12.00 jenazah disemayamkan di gereja Santo Yusuf, Gedangan. Jam 17.00; Misa Tuguran di gereja Gedangan. Jam 20.00 diberangkatkan ke Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, Yogyakarta. Jam  22.40  rombongan pengantar sampai di Kentungan,  dan Rama Sebas disemayamkan di kapel Seminari Tingggi.  Kemudian wakil dari umat paroki Gedangan menyerahkan Rama Sebas kepada Rama J. Kristanto, Rektor Seminari Tinggi. Doa-doa dipanjatkan oleh umat dan keluarga besar Seminari Tinggi, mengawali tuguran malam ini.

Jumat, 4 Maret 2011, jam 11.00 Misa Requiem di kapel Seminari Tinggi, dan seusai misa dimakamkan di pemakaman Kentungan. Mohon doa, Requiescat in Pace!


Saya mengenal Rama Sebas, begitu ia biasa dipanggil, sejak kami berada bersama di Seminari Menengah Santo Petrus Canisius, Mertoyudan, tahun 1962, setamat dari SD. Ia lebih muda beberapa hari dari umur saya. Ia lahir di Yogyakarta,  13 Januari 1950.  Di antara teman-teman ia unggul dalam seni, terutama seni tari. Ketika saya masuk Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, kami hidup bersama lagi selama tiga tahun (1970-1972). Pada waktu itulah kami teman-temannya kadang berkunjung ke rumahnya di Tejakesuman NG II / 499, Yogyakarta. Kami bertemu dengan orangtua dan saudari-saudarinya. Orangtuanya Bapak Sosrosumarto, Hendrikus  dan Ibu  Sukardinah, Hendrika   telah dipanggil Tuhan . Ia anak bungsu. Tiga kakaknya: Suster Immaculati, CB;  Mbak Ismu Nurhayati Supoyo, Aloysia  (Alm); dan mbak Ismu Dyastuti Wahyudi, Paulina.

Ketika saya melaksanakan Tahun Orientasi Pastoral di Seminari Menengah Mertoryuan, 1973, ia masuk Pertapaan Trappist, Rawaseneng.  Ia memang kemudian menjadi Rabih Trappist, dan ditahbiskan menjadi imam untuk Pertapaan tersebut pada tanggal  15 Agustus 1983. Dalam perjalanan rohani selanjutnya ia memutuskan untuk menjadi imam diosesan KAS, dan diterima pada tanggal. 15 Juli 2005. Sejak itu Ia ditugaskan menjadi Pastor Pembantu Paroki Boyolali.

Karena alasan kesehatan ia kemudian tinggal di Wisma Uskup Keuskupan Agug Semarang, Jl. Pandanaran 13, sejak 15 Januari 2009. Kemudian sejak 1 Agustus 2009, ia ditugaskan menjadi Pastor Pembantu Paroki Gedangan, Semarang.  Pada waktu Temu Pastoral Kevikepan Semarang, 12-14 Januari 2011, saya menemuinya sekembali di Semarang lagi. Pada waktu itu kami sempat foto berdua. Kami bertemu lagi pada waktu misa pasien di RS. Elisabeth, Selasa, 15 Februari 2011, dalam rangka Hari Orang Sakit Sedunia. Pada semua pasien saya menerimakan sakramen orang sakit, juga pada Rama Sebas.


Tentang saat-saat terakhir hidupnya dituturkan oleh Rm. St. Heruyanto sebagaimana dikisahkan oleh Rm. Aria  Dewanto, SJ pada waktu homili bahwa Rama Sebas jam 05.30 Kamis, 3 Maret 2011, masih memimpin misa pagi bersama umat. Memang dalam misa ada beberapa bagian yang terlewatkan tidak dibaca (mungkin lupa menahan sakit). Sehabis misa Rama masih menyalami umat yang hadir. Pagi itu Romo Sebas tidak sarapan dan langsung naik ke Lt. 2 dan masuk  kamarnya. Ternyata beliau langsung masuk kamar karena memang menderita sakit yang makin lama makin berat. Kemudian dia panggil mas Kartijo, pegawai /koster pastoran untuk datang di kamarnya. Mas Kartijo menyaksikan bahwa Rm Sebas dalam keadaan tambah berat, (muntah-muntah disertai sesak napas. Karena itu, dia memanggil Rama Ari untuk ikut membantunya. Romo Ari kemudian memanggil ambulans RS Elisabeth. 

Maka datanglah Sr. Silvana OSF dan perawat yang berusaha membantu menyadarkan Rm Sebas yang sudah koma. Tapi tidak berhasil. Ketika itu Sr. Silvana meminta Rama Ari untuk memberikan sakramen perminyakan orang sakit. Pengurapan diberikan secara singkat karena menyadari sepertinya Rama Sebas sudah dalam proses berpulang ke rumah Bapa. Beliau wafat pada pkl. 8.05 pagi.



Rama Sebas, terimakasih atas hidup yang telah kaubaktikan kepada Tuhan melalui pelayanan pastoral di Keuskupan Agung Semarang



Rama, selamat jalan! Doakanlah kami yang sedang berziarah menuju tempat tinggalmu di pangkuan bunda Maria.


Yogyakarta, 3 Maret 2011

Salam, doa 'n Berkah Dalem,

 + Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Selasa, 01 Maret 2011

SURAT GEMBALA PRAPASKA 2011

SURAT GEMBALA PRAPASKA 2011
KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG
Hari Minggu Biasa IX Tahun A/I, Tanggal 5 – 6 Maret 2011



“Orang Katolik Sejati Melakukan Kehendak Bapa”

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Rabu Abu menjadi pintu masuk bagi kita semua ke dalam  masa Pra Paska, yang dalam tradisi Gereja  dijadikan masa  untuk “retret agung”.  Disebut “retret agung” karena selama 40 hari kita diajak oleh Gereja untuk mengikuti Yesus Tuhan kita  semakin dekat, mengenal-Nya semakin dalam, dan mencintai-Nya semakin mesra.  Saya anjurkan seluruh umat Katolik sungguh menggunakan masa retret agung  untuk keperluan tersebut, secara pribadi maupun bersama, agar iman berkembang semakin mendalam dan tangguh, dan dengan demikian menjadi orang Katolik sejati.

Selama masa Pra Paska 2011 kita diajak untuk merenung,  berdoa, dan membicarakannya dalam pertemuan umat  dengan tema “Inilah orang Katolik Sejati”. Di manakah terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik? Pada nama baptis Katolik yang dipasang melengkapi nama diri? Tentu tidak. Pada keterangan  agama yang kita anut, yang tercantum pada KTP? Tidak juga. Pada cara seruan ketika kita berdoa? Pada kutipan Injil hari ini Tuhan Yesus bersabda, ‘Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 7: 21) Bukan pada cara seruan kita berdoa, tetapi pada rahmat yang memampukan kita melakukan kehendak Bapa di sorga terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik.

Dengan pernyataan tersebut, dapat kita mengerti pula bahwa ‘kekatolikan’ memuat pemahaman tentang iman  yang terbuka, bahwa siapa pun yang melakukan kehendak Bapa di sorga dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Katolik merupakan suatu nama yang memuat ajakan agar kita diperkenankan mengalami Allah yang sejati.  Pada zaman kita ajakan tersebut menjadi sungguh berat karena kita hidup dalam berbagai arus yang berlawanan secara ekstrim.  Ada arus tak peduli pada keberadaan Allah dan perannya bagi keselamatan manusia karena manusia merasa semakin mampu mengusahakan keselamatan sendiri. Ada juga arus fanatisme beragama yang dipeluk oleh orang-orang yang berseru “Tuhan, Tuhan”,  namun perilakunya tidak sesuai dengan seruannya, karena merusak milik orang lain, dan bahkan membinasakan kehidupan manusia.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Dalam kehidupan beragama kerap kita jumpai praktek-praktek keagamaan yang tidak selaras dengan pengalaman akan Allah yang sejati, karena bukan Allah yang kita muliakan, melainkan kepentingan diri sendiri yang kita penuhi.  Kita beranggapan bahwa  pelaku utama keselamatan itu diri manusia, diriku, dan bukan Allah.  Dalam seruan kepada Allah, kerap kita  berpendapat yang harus terjadi adalah  kehendakku, bukan kehendak Bapa yang di sorga. Ranah keagamaan telah kita jadikan tempat berjualan, dan bukan lagi menjadi tempat doa. Kita ciptakan ilah-ilah baru yang muncul dari kepentingan diri kita sendiri untuk memenuhi kepentingan diri kita sendiri pula.

Ketidakberesan dalam ranah keagamaan ini menjadi sumber aliran-aliran arus yang bermuara pada ruang publik yang tuna adab.  Intoleransi yang akhir-akhir ini menjadi-jadi, kebohongan publik yang merambah ke setiap sudut ruang kehidupan masyarakat, korupsi,  ketidakadilan, kekerasan yang merajalela, bahkan telah masuk dalam keluarga-keluarga kita  adalah buah-buah dari hidup keagamaan yang tidak benar, karena yang kita sembah sebenarnya bukan Allah sejati, melainkan ilah-ilah ciptaan kita sendiri.

Permenungan kita mengenai “Inilah orang Katolik sejati” merupakan ajakan pertobatan, agar kita meninggalkan kegelapan untuk masuk dalam terang. Kita buka hati kita agar Roh Kudus, Roh Penasihat, menasihati kita agar menjadi trampil melaksanakan pembedaan roh-roh (Inggris: “discernment of spirits”,  Latin “discretio spirituum”).  Dalam ulah rohani ini kita kenal langkah-lagkah rohani untuk “necep sabda, neges karsa, ngemban dhawuh”. Langkah-langkah itulah yang dapat kita lakukan untuk mengisi masa Pra Paska kita menjadi masa retret agung.  

Dalam langkah “necep sabda”, kita buka telinga kita untuk mendengarkan sabda Allah, yang bersabda melalui Kitab Suci. Sabda itu terasa manis karena meneguhkan perbuatan baik kita, namun sabda itu bisa pahit kalau mengkritik perbuatan salah kita. Seharusnya sebagai orang Katolik sejati kita biarkan daya kekuatan sabda itu mengubah hati kita. Dalam langkah “neges karsa” kita menjajagi apa kehendak Tuhan bagi hidup kita, membeda-bedakan mana kehendak Tuhan, mana kehendak kita; dan kemudian menegaskan bahwa kehendak Tuhanlah yang harus kita utamakan dalam kehidupan kita. Dalam langkah “ngemban dhawuh”, kita bangun kehendak hati dan budi kita karena kita bertekad melaksanakan kehendak Tuhan “ngemban dhawuh Dalem  Gusti” dalam kehidupan kita.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Saya yakin, langkah-langkah itu dapat membantu kita  menjadi bijaksana untuk mendirikan rumah di atas batu, sebagaimana dikatakan Tuhan, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Mat. 7:24-25).

Sebagai orang Katolik sejati, marilah kita juga bersedia diantar oleh Maria, bunda Allah dan bunda Gereja, kepada Yesus, “per Mariam ad Jesum”. Maria telah menjadi teladan beriman kita. Seluruh hidupnya telah menjadi kesempatan untuk menyimpan segala peristiwa dan merenungkannya dalam hatinya. Setiap kali kita berdoa rosario, dalam sinar peristiwa-peristiwa Tuhan: gembira, terang, sedih dan mulia,  kita diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri sebagai peristiwa-peristiwa keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah sendiri.  

Allah yang telah memulai pekerjaan-pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6).



Salam, doa dan Berkah Dalem,

Semarang, 25 Februari 2011


+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang