Minggu, 31 Juli 2011

Ibarat “Lima Buah Roti dan Dua Ekor Ikan” (Mat 14: 13-21)


“MENEBAR SEMANGAT BERBAGI BERKAT”
HARI RAYA PEMBERKATAN GEREJA KATEDRAL Ke-74

Ibarat “Lima Buah Roti dan Dua Ekor Ikan” (Mat 14: 13-21)



Yang Mulia Mgr. Antonio Guido Filipazzi, Bp. Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, Mgr. Prajasuta MSF, para rama, suster, bruder, ibu bapak dan saudari-saudaraku yang terkasih dalam Tuhan. Selamat sore dan Berkah Dalem,

Your Excellency, Mgr. Antonio Guido Filipazzi, first of all, I would like to welcome you, the Ambassador of the Holy See for Indonesia,  who are now present here to convey pallium, blessed by the Holy Father, Benedictus XVI on July 29, in Vatican, on the solemnity of Saint Peter and Saint Paul. I had asked for permission not to receive the pallium from the hands of the Holy Father, because on the same day there was a priestly ordination in Kentungan, Yogyakarta. On that day, I asked my people of Semarang Archdiocese to give thanks for the 60th priestly anniversary of the Holy Father in prayers and adoration for 60 hours. Yang artinya, “Pertama-tama ingin saya ucapkan selamat datang kepada Yang Mulia Duta Besar Tahta Suci untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Fillipazzi,yang berkenan hadir menyerahkan pallium yang diberkati oleh Bapa Suci Benediktus XVI pada tanggal 29 Juni 2011, di Vatikan pada hari raya Santo Petrus dan Santo Paulus. Pada hari itu saya mohon ijin tidak bisa menerima pallium dari tangan Bapa Suci, karena bersamaan waktu dengan tahbisan imam di Kentungan, Yogyakarta.  Pada hari itu pula telah saya ajak umat Katolik Keuskupan Agung Semarang untuk bersyukur atas ulangtahun imamat yang ke-60 Bapa Suci Benediktus XVI dalam doa dan adorasi Ekaristi 60 jam.”



Umatku yang terkasih, dengan penyerahan pallium di sini, saya ingin, agar Anda dapat menyaksikan peristiwa iman, penyerahan pallium ini di gereja kita, Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci ini. Dan memang kemudian disepakati untuk melaksanakan penyerahan pallium tersebut oleh Yang Mulia Nuncio pada hari ini, 30 Juli 2011,  bertepatan dengan ulang tahun yang ke-74 pemberkatan Gereja Katedral kita.

Karena itu,  saya mengucapkan terimakasih kepada Bp. Julius Kardinal Darmaatmadja, Mgr. Prajasuta, para rama, suster, bruder, ibu bapak dan saudari-saudaraku, yang berkenan meluangkan waktu untuk menyaksikan peristiwa iman ini. Kehadiran Anda semua hendak menyatakan,  bahwa kita ini bagian utuh dari Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Kesadaran menjadi bagian itu menjadi sangat jelas pada penyerahan pallium ini yang telah diletakkan pada makam Santo Petrus di Roma, yang telah diberkati oleh Bapa Suci Benediktus XVI, dan yang sekarang ini diserahkan oleh Yang Mulia Nuncio, Duta Besar Tahta Suci untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi. Yang kita rasakan sekarang ini, Vatikan tidak jauh di Italia sana, tetapi ada di sini dengan kehadiran Nuncio di tengah-tengah kita.

Peristiwa pada hari ini memenuhi ruang rasa hati kita, umat Katolik Keuskupan Agung Semarang yang beryukur atas 50 tahun Hirarki Episkopal Gereja Katolik Indonesia (3 Januari 1961 – 2011). Kesetiaan kita kepada Gereja Katolik kita wujudkan dalam cita-cita kita sebagai “persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus, yang dalam bimbingan Roh Kudus, berupaya menghadirkan Kerajaan Allah, sehingga semakin signifikan dan relevan bagi warganya dan masyarakat (Ardas KAS 2011-2015, alinea 1).


Kita menyadari, cita-cita tersebut dapat kita wujudkan,  apabila kita bersedia ber-partisipasi membangun Gereja yang hidup sebagai “persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus dengan menghadirkan Kerajaan Allah” dalam realitas nyata masyarakat kita. Kita saksikan orang banyak yang besar jumlahnya, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel,  yang berkehendak untuk mengalami belas kasih dari Allah sendiri. Kerap kali kita berkecil hati, kalau kita memperhitungkan kemampuan kita. Namun, sabda Tuhan “Kamu harus memberi mereka makan”, begitu nyaring kita dengar.  Dan kita yakin, bila kita bersatu dengan Tuhan kita Yesus Kristus,  partisipasi kita yang tidak seberapa, ibarat “lima buah roti dan dua ekor ikan” (Mat 14: 13-21) menjadi cukup untuk memuaskan banyak orang, karena  “lima buah roti dan dua ekor ikan” tersebut telah diambil-Nya, diberkati-Nya dalam doa syukur, dibagi-bagi-Nya dan diberikan-Nya kepada orang banyak.


Pada hari ini saya membawa tongkat pastoral yang berbeda dari biasanya, meskipun makna yang terkandung di dalamnya sama juga. Kalau biasanya saya membawa tongkat dengan ornamen burung pelikan, sekarang yang saya bawa adalah tongkat dengan ornamen Anak Domba Allah, “Agnus Dei, qui tollit peccata mundi”. Konon, pallium yang dikenakan pada saya ini terbuat dari bulu domba yang dicukur pada pesta Santa Agnes. Ketika saya mengenakan pallium ini, saya teringat Ibu saya yang memiliki pelindung Santa Agnes. Ibu dan Bapak semasa hidup mereka pasti belum pernah mendengar ada upacara ini pada hari ini. Tetapi sekarang saya percaya,  mereka menyaksikan peristiwa ini dari surga. Mengingat itu semua, saya rasakan, sungguh benar sabda Tuhan, “kuk yang Kupasang itu enak, dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11:30).

Mengakhiri sambutan saya, saya memohon doa Anda semua, agar saya selalu membiarkan diri diantar oleh Santa Perawan Maria, Ratu Rosario Suci untuk mengikuti Yesus, Puteranya semakin dekat, untuk mengenal-Nya semakin dalam, dan untuk mencintai-Nya semakin mesra. Hanya dengan tinggal di dalam Dia, kita mampu “MENEBAR SEMANGAT BERBAGI BERKAT”.

Terimakasih atas perhatian, doa dan persabatan dalam kasih Kristus, Tuhan kita.

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

Semarang, 30 Juli 2011

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Jumat, 29 Juli 2011

Hari Bakti TNI AU Ke 64

Hari Bakti TNI AU Ke 64
“Bangkitlah Elang-Elang Muda Indonesia!’
Jumat, 29 Juli 2011
di Ngoto, Bantul, Yogyakarta



Jumat, 29 Juli 2011, pada Hari Bakti TNI AU Ke-64 di Ngoto, Bantul, Yogyakarta diselenggarakan perayaan Ekaristi untuk mengenang gugurnya Bp. Agustinus Adisutjipto dkk 64 tahun yang lalu. Sebagai kenangan pada peristiwa kepahlawanan itu Rm. Yos. Bintoro, Pr menerbitkan buku berjudul “AGUSTINUS ADISUTJPTO” , Baktiku, Kualitasku Pada Bangsaku Indonesia, 2011, 136 hal. Pada buku itu saya sampaikan prolog, yang menjadi bahan homili.

Indonesia sebagai realitas baru  dinyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Negara muda ini ditempa oleh  berbagai tantangan yang datang dari dalam maupun dari luar. Fanatisme beragama menjadi ancaman integritas bangsa, dan kolonialisme yang ekspansif tetap menjadi bahaya bagi keberadaan Indonesia merdeka.

Karena goncangan demikian keras Presiden Soekarno berkeputusan memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Pada waktu itu pula Rama Kanjeng, Mgr. Albertus Soegijapranata menegaskan opsi Gereja Katolik untuk berpihak pada Republik Indonesia dengan pindah dari Semarang ke Yogyakarta. Seruan Rama Kanjeng agar umat Katolik menjadi Indonesia 100 % dan Katolik 100% bergema dalam hati orang muda Katolik pada waktu itu, juga dalam hati seorang muda Agustinus Adisutjipto.

64 tahun yang lalu, 29 Juli 1947 di desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta bangsa Indonesia menyaksikan peristiwa kepahlawanan, ketika pesawat Dakota VT-CLA yang ditumpangi Agustinus Adisutjipto bersama 5 awak pesawat terbakar di udara dan jatuh karena tembakan yang berasal dari dua pesawat pemburu P-40 Kittyhawk Belanda.

Bersama dengan Bapak Ibu FX. Adisusanto Adisutjipto,
adik alm. Agustinus Adisutjipto


Agustinus Adisutjipto, yang lahir pada 4 Juli 1916, dan gugur pada 29 Juli 1947, telah membaktikan hidupnya untuk bangsa dan tanah air Indonesia. Idenya yang cemerlang mengantarnya untuk mendirikan Sekolah Penerbang di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo pada tanggal 1 Desember 1945. Karena jasanya itu Adisutjipto dikenal sebagai bapak Penerbang Indonesia. Ia mempersembahkan hidupnya pada usia muda, 31 tahun kepada bangsa Indonesia.

Orang muda Indonesia pada waktu itu berdarah-darah sampai mati untuk membela Negara Republik Indonesia. Kematian mereka menandakan tumbuhnya Indonesia, yang kedaulatannya diakui oleh pemerintah Belanda,  27 Desember 1949. Pada zaman kita sekarang ini orang muda Katolik pun dipanggil untuk membaktikan diri bagi keselamatan Republik Indonesia, dengan menghadapi tantangan-tantangan baru yang muncul.

Begitulah dinamika kehidupan yang telah dinyatakan dalam diri orang muda dari Nazareth, yang bernama Yesus Kristus. Ia berdarah-darah, dan mati muda untuk menyelamatkan  seluruh bangsa dari kehancuran, agar manusia menjadi anak kemerdekaan.


Bangkitlah Elang-Elang Muda  Indonesia! Bagi Indonesia mari kita berbakti!


Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

Semarang, 29 Juli 2011

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Kamis, 28 Juli 2011

“MENEBAR SEMANGAT BERBAGI BERKAT”

“MENEBAR SEMANGAT BERBAGI BERKAT”
HARI RAYA PEMBERKATAN GEREJA KATEDRAL Ke-74
30 Juli 2011


Saya terima surat dari Rama Sukendar, Pr berkaitan dengan HARI RAYA PEMBERKATAN GEREJA KATEDRAL Ke-74, 30 Juli 2011, yang mendalami tema “MENEBAR SEMANGAT BERBAGI BERKAT”.


Para Romo yang terkasih,

tanggal 30 Juli 1937 Gereja Randusari, Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci diberkati oleh Mgr. Willekens, SJ. Mulai 25 Juni 1940 setelah ditetapkan sebagai Vikariat Apostolik Semarang, maka Mgr. Alb. Soegijapranata, SJ menggunakan Gereja Randusari sebagai Katedral.

Dalam penanggalan liturgi, tanggal 30 Juli ditulis sebagai HARI RAYA.
Kami mengingatkan dan mengajak para Romo dan paroki-paroki se KAS untuk merayakannya sebagai Hari Raya (Sabtu, 30 Juli 2011), sebagai ungkapan kesatuan dengan penggembalaan Bapa Uskup Agung Semarang. Rumus misa, silakan menggunakan rumus Pemberkatan Gereja basilik Lateran, 9 November.

Ketika kami berjumpa pada hari Selasa, 28 Juni 2011
di Nuntiatura, Jakarta

Pada hari Sabtu tg 30 Juli 2011, bertepatan dengan HUT pemberkatan Katedral Semarang yang ke 74, Bapa Uskup, Mgr. J. Pujasumarta akan menerima Pallium (tanda jabatan Uskup Agung) dari Bapa Suci Benedictus XVI melalui Nuntius, Mgr. Antonio Filipazzi dalam perayaan Ekaristi di Gereja Katedral, mulai pukul 16.00 dilanjutkan dengan ramah tamah di gedung Sukasari dan di taman doa pastoran.

Kami mengundang keterlibatan para Romo dalam perayaan Ekaristi, atau kalau terlalu ribet untuk pelayanan kepada umat pada hari Sabtu petang, kami memohon untuk menyatukan doa-doa bagi kesehatan dan kebijaksanaan Bapa uskup dalam penggembalaan di Propinsi Gerejawi Semarang.

Romo Paroki dan Dewan Paroki Rayon kota Semarang, para Romo Vikep dan Romo Provinsial MSF - SJ beserta Romo Kuria sudah dihaturkan undangan khusus.

Matur nuwun, berkah Dalem: Sukendar


Pembicaraan antar kami yang terjadi sebelumnya:

Rama-Rama Ytk.,

ketika saya menemui Mgr. Antonio Guido Filipazzi, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia (Selasa, 28 Juni 2011),  sempat kami bicarakan kemungkinan hari Sabtu, 30 Juli 2011 (HUT Pemberkatan Gereja Katedral), untuk perayaan Ekaristi penyerahan Pallium. Bapa Suci Benediktus XVI akan memberkati Pallium itu besok Rabu, 29 Juni 2011, pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus di Vatikan. Hendaknya waktu Ekaristi penyerahan Pallium itu  ditentukan sedemikian, agar Nuncio bisa kembali ke Jakarta hari itu juga. Karena itu, perlu dicari informasi penerbangan dari Semarang ke Jakarta agar Nuncio bila kembali ke Jakarta petang/malam itu. Fr. Jozsef Forro sudah saya beritahu kemungkinan tersebut. Saya minta tolong Rm. Mulyono membuat surat permohonan ke Nuncio untuk itu.

Salam, doa 'n Berkah Dalem, + J. Pujasumarta



Rama-Rama Ytk.,

baru saja saya memperoleh sms dari Fr. Jozsef Forro (Nuntiatura), sbb. "Dear Excellency, at what time you plan to start the mass on 30 july for the pallium? Thanks and have a nice afternoon, jozsef".                             

Kemarin (Kamis, 30 Juni 2011) menjelang misa vigili Hati Kudus Tuhan Yesus di gereja Katedral saya berbicara dengan Rm. Sukendar tentang kemungkinan waktu misa tsb. Lalu, kepada Fr. Jozsef saya kirim balasan saya, sbb. "Dear Jozsef, about the mass for the pallium on 30 July 2011  we are thinking to start the mass at 4 PM, that the Nuncio will be able to return to Jakarta on the same day. Curia will fix the time, and write the letter to Nuncio. What do you think about? My best regards, + J. Pujasumarta".                                   

Lalu sms saya ditanggapi sbb. "Excellency, if the mass will not be too long, i think 4pm is good. Flight is at 7.20. Will wait for your details. With cordial regards, jozsef"             

Demikianlah sekilas info.

Salam, doa 'n Berkah Dalem, + J. Pujasumarta

 

Rabu, 27 Juli 2011

Tahbisan Imam SJ : Gerakkan Dunia Dengan Kasih dan Kegembiraan!

Tahbisan Imam SJ
Di Gereja Katolik Santo Antonius, Kotabaru
Rabu, 27 Juli 2011, jam 09.00


Gerakkan Dunia Dengan Kasih dan Kegembiraan!


Rabu, 27 Juli 2011,diselenggarakan tahbisan imam SJ  di gereja Katolik Santo Antonius, Kotabaru, Yogyakarta, mulai jam 09.00. Didampingi oleh Rama Riyo Mursanto SJ, Provinsial SJ, dan Rama Hasto Rosariyanto, SJ  saya men-tahbis-kan tujuh frater diakon SJ:

1.    Diakon Yosef Andi Purwono, SJ
2.    Diakon Eduardus Didik Chahyono Widyatama, SJ
3.    Diakon Agustinus Rudy Chandra Wijaya, SJ
4.    Diakon Yosef Fristian Yulianto, SJ
5.    Diakon Dominico Savio Octariano Widiantoro, SJ
6.    Diakon Ferdinandus Effendi Kusuma Sunur, SJ
7.    Dikaon Elias Ambirat Duhkito, SJ

Pada kesempatan tersebut saya sampaikan homili, sbb.:


Gerakkan Dunia
Dengan Kasih dan Kegembiraan!


Rama Provinsial SJ, Rama Rektor Kolese Ignatius, para rama, bruder , suster, ibu bapak, dan saudari-saudaraku yang terkasih dalam Tuhan,

Mengawali tahun 2011 ini Konferensi Waligereja Indonesia mengajak umat Katolik Indonesia untuk bersyukur atas 50 tahun hirarki episkopal Gereja Katolik Indonesia (3 Januari 1961-2011)  Peristiwa tahbisan imamat di Keuskupan Agung Semarang (1 imam Diosesan KAS dan 2 imam SX, 29 Juni, 4 imam MSF, 19 Juli 2011) dan sekarang ini 7 imam SJ secara istimewa saya jadikan alasan bersyukur tersebut, karena kehidupan Gereja Katolik Indonesia menjadi subur dengan panggilan imamat. Teristimewa Kotabaru ini memiliki peran khusus bagi sejarah tumbuh dan berkembangnya kesadaran menjadi Gereja Katolik Indonesia.

Pada awal abad XX awal sejarah Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan (1912), Novisiat SJ (1922), Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan (1936) melekat pada Kotabaru ini. Dan pada hari ini kita masih boleh menyaksikan peristiwa tahbisan imam.

Oleh karena itu, kepada para frater diakon yang ditahbiskan,  saya ucapkan selamat atas anugerah panggilan yang telah diterima. Setelah disiapkan oleh banyak pribadi dan komunitas dalam waktu yang lama dengan hati-hati, cermat dan menyeluruh, hari ini sebuah tonggak  baru akan dipancangkan: menjadi imam Tuhan.

Kepada Serikat Jesus, saya juga ingin ikut bersama bersyukur, karena hari ini akan bertambah imam-imam baru yang akan terus mengambil bagian di dalam melanjutkan sejarah Gereja Katolik yang selama ini telah menerima sumbangan besar dari Serikat yang pernah mengaku diri kecil (minima societas) itu. .
     
Imam-imam ini  merupakan anugerah Tuhan bagi Gereja. Imamat yang disiapkan dengan semangat lebih, lebih dalam penggalian spirtualitasnya, lebih lama waktu persiapannya, membawa pembaruan, penyegaran dan kegembiraan  bagi Gereja.
      
Anugerah semangat pembaruan ini yang memampukan Jesuit sebagai serikat imamat, menjadikan Gereja senantiasa bermakna bagi anggotanya dan sekaligus berperan di dalam masyarakatnya.
      
Zaman kita sekarang sangat memerlukan kedua hal itu, supaya kita bersama tetap setia pada panggilan untuk menjadi  garam, ragi dan terang dunia.  Menjadi garam yang asinnya nyata, agar tidak dibuang dan diinjak-injak orang; menjadi ragi, yang dayanya mengubah dunia dari dalam; menjadi terang yang bersinar dalam kegelapan.


Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan,
      
Anda semua yang hadir di sini, saya percaya bahwa Anda semua berada  di sini untuk bersyukur bersama kami  karena anugerah imamat ini.
      
Terima kasih atas  doa-doa untuk mohon panggilan. Hari ini doa Anda untuk mohon panggilan imamat  itu telah dikabulkan. Imam-imam kita adalah anugerah yang menjadi harta bagi kita. Marilah kita rawat harta yang berharga ini, agar dapat tetap indah, berguna dan menggembirakan bagi semua; karena pada pokoknya, mereka ini dipanggil untuk tidak hanya membawa kabar gembira, tetapi sendiri menjadi kegembiraan yang berasal dari Tuhan itu.

Bersama para imam ini, kita disatukan di dalam Ekaristi, sumber hidup kita.  Ekaristi menjadi wujud kasih Allah kepada manusia. Di situ kita boleh “manunggal”, menjadi satu dengan Hyang Mahaagung yang mencintai kita si papa ini. Para imam baru ini akan menjadi yang paling dahulu, bahkan menjadi contoh bagaimana Yesus menjadi Penghubung Agung antar Bapa dengan kita dan kita satu sama lain.

Marilah kita mohon, agar para imam ini tetap dipelihara oleh Tuhan sendiri, sehingga Tuhan dapat kita temukan di mana-nama: dalam Roti Suci ketika kita sedang dalam adorasi, tetapi juga dalam diri si papa dan mereka yang menjadi semakin miskin di Indonesia ini. Karena kecuali mengatakan bahwa Dia menjadi nampak dalam roti, Yesus juga mengatakan, bahwa Dia adalah yang terkecil, miskin dan malang, yang haus, yang tak punya tumpangan, yang sakit, yang telanjang (Bbk. Mat 25:35-36)

Pernahkah Anda mendengar, bagaimana guru-guru agama mengajar tentang sakramen imamat kepada anak-anak?

Dulu sorga dan dunia ini seperti satu. Keduanya – surga di atas dan dunia di bawah - dihubungkan dengan sebuah tangga. Anak-anak manusia dapat bergerak bebas naik turun, demikian juga para malaekat, bahkan Tuhan sendiri, kadang-kadang mengunjungi umat-Nya.

Tetapi si  Jahat tidak senang melihat kebebasan dan keakraban seperti itu. Maka pada suatu hari, si Jahat memotong tangga itu dan putuslah hubungan antara sorga dan dunia.

Namun tak sampai hatilah Allah Bapa melihat anak-anak-Nya kehilangan sarana komunikasi itu. Maka Bapa menugaskan Yesus untuk menjadi Penghubung Baru. Yesus turun ke dunia. Dia tidak hanya menjadi tangga, Dia menjadi Penghubung itu sendiri. Sebagai Manusia, Yesus harus kembali ke Bapa, maka diciptakanlah Sakramen Imamat untuk terus menjaga agar hubungan antara sorga dan dunia ini tetap berlangsung. Melaluinya manusia tetap dapat bebas dan begerak naik-turun, membawa
berkat dari Surga ke dunia dan menaikkan syukur dan puji kemuliaan kepada Bapa-Nya.  

Di Kotabaru ini telah ditempatkan tangga itu, penghubung antara dunia dan surga. Merenungkan peran Kotabaru dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia  saya teringat akan kisah kupu-kupu dan pelukisnya yang dituturkan oleh Rama Sindhunata, SJ tentang Ibunya bila berkisah tentang Sam Pek Eng Tay.

“Di balik cerita ini sebenarnya tersimpan sebuah kisah lain, kisah tua dari Cina tentang cinta manusia yang tak pernah kesampaian. Diceritakan dalam kisah itu, musim semi adalah saat putri-putri Cina mengenakan kembali gaun tipisnya. Seorang gadis menikmati keindahan musim semi. Sambil bersandar di jendela, ia melukis sepasang kupu-kupu. Tiap kali selesai melukis, lukisan itu jadi kupu-kupu sungguh. Dan kupu-kupu itu terbang meninggalkan kertasnya, berpasangan hinggap di bunga-bunga musim semi. Begitu seterusnya, tiap kali gadis itu selesai melukis, terbanglah kupu-kupu dari hadapannya, mereka selalu terbang sepasang-sepasang dengan sayapnya yang indah. Begitu banyak pasangan kupu-kupu lahir dari tangannya, tapi sebaliknya si gadis itu tetap sendirian saja. Dan airmatanya pun mengalir turun jatuh ke kertasnya. Gadis itu merasa, ia hanya sendiri, tanpa kekasih, kendati sekian ribu pasangan kupu-kupu lahir dari tangannya, berkasih-kasihan di musim semi. Lalu ia pun melukis kertas itu dengan airmatanya. Mungkin karena itu ibu saya selalu terharu jika bercerita tentang Sam Pek Eng Tay.”


Pada hari ini, pada awal abad XXI, kita  menyaksikan di Kotabaru gadis pelukis kupu-kupu itu. Begitu indah kupu-kupu itu dilukisnya. Dan pada saat yang tepat kupu-kupu itu meninggalkan kertasnya, untuk terbang hinggap di bunga-bunga musim semi Gereja Katolik Indonesia, untuk mengarungi peziarahan sejarah di dunia ini.  Airmatanya pun mengalir turun jatuh ke kertas, bukan karena sedih ditinggal sendirian, tetapi air mata haru karena merasa bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya, bahkan ia bersyukur karena boleh mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Semoga kepak sayap-sayap kupu-kupu itu menggerakkan dunia dengan kasih dan kegembiraan!

Karena itulah bagi para Yesuit, kegiatannya selama mengarungi sejarah di dunia ini diringkas dalam sebuah sesanti: Ad Maiorem Dei Gloriam – Amrih Mulya Dalem Gusti. Terpujilah nama Tuhan.


Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

Semarang, 27 Juli 2011


+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Minggu, 24 Juli 2011

Saiyeg Saeka Kapti Memetri Rukuning Sesami

Saiyeg Saeka Kapti Memetri Rukuning Sesami

FESTIVAL KESENIAN TRADISIONAL


OMK KULON PROGO
Minggu, 24 Juli 2011, Kalibawang, Kulon Progo

Minggu, 24 Juli 2011, Kalibawang, Kulon Progo Orang Muda Katolik (OMK) menyelenggarakan Festival Kesenian Tradisional. Festival Kesenian Tradisional merupakan kesempatan untuk menghargai nilai kebersamaan “Saiyeg Saeka Kapti Memetri Rukuning Sesami”. Di dalam budaya dapat kita temukan “semina verbi”, benih-benih sabda, yang dalam terang firman mendapat kegenapan dalam firman kasih yang kreatif dan transformatif.

Saya sendiri tidak bisa menghadiri peristiwa budaya di Kulon Progo, tetapi Rama Pius Riana Prapdi, Vikaris Jenderal KAS menghadirinya, dan mengirimkan foto yang melukiskan suasana peristiwa budaya tersebut. Ketika kami ketemu pada kesempatan makan malam bersama, Rama Vikjen menyampaikan buku panduan Festival tersebut. Tercantum di dalamnya suatu narasi tentang Ajisaka, yang ditulis oleh Peter Satriyo Sinubiyo.

AJISAKA


Arsa resi melintas batas samudra rasa.
Menelusur alur, meretas tegas,
mematah rintang, mengiring kidung, mewarta suka kabar cita,
Bergerak dalam alunan karsa raya, memacu kuat kehendak, lantang mengembara.
Bumi satu bumi terbagi; tanah  seberang, tanah dilanglang.

Euntes ergo docete omnes gentes…

Laku wiku terus berarus, menerpi pada sepotong sisi.
Sang resi, sang abdi bersua tatanan liyan nan harmoni.
Liyan lain berdegup selaras getaran pertiwi
Sayta cahaya melempar terang menumbuh tumbuh sang karang kitri.
Damai raga damai jiwa.
Gerak langkah mengalun alunan syukur tafakur.

Kala tiba kalatidha.
Barung meraung mengerkah tatanan lumrah, merampasa napas, menghantam dendam.
Mendengar Dewatacengkar membakar akar, mencerabut sebrut jiwa terpaut.

Kala padu kalabendu.
Nagari suci terkoyak dengki.
Amarah serakah sumpah serapah.
Para rakseksa menginjak jejak, duka menganga luka selaksa.
Tak hirau jerit jiwa terobek sobek.

Kala dadi kalamukti.
Sang resi menantang di tanah padang.
Mengurai surban sebatas tanah yang dijanjikan.
Berela diri menjadi kanti kerakusan.

Seru sorak para raseksa menggetar, meruntuhkan jiwa terkapar.

Yo nang alun-alun, yo nang alun-alun; Ajisaka nggelar ikete
Yo nang alun-alun, yo nang alun-alun; Ajisaka nggelar ikete
Yo nang alun-alun, yo nang alun-alun; Ajisaka nggelar ikete

Batas sorban tak terperi, mengrus keras laun samudra. Musnah sirna sang angkara.

Jangan mudah berucap kata kala raga tak menyatu cipta.
Sang Ajisaka, sang resi sabrang menetes duka tak terkata demi sang setya dwi abdi, sang Dora, sang Sembada.
Sang resi suci terjerat hasrat sempurna.

Van den aanvang af bestond het Woord.
Sang sandyakala menggegar rasa, membebat luka.
Dalam remuk reguk nestapa, sang resi berucap kata carita.
Kala kata menjadi sabda, sbda menjadi pusaka jiwa Tanah Jawa.

Ha na ca ra ka, adalah utusan satya merengkuh janji pada sang resi.
Da ta sa wa la, kala tiada rasa selaras, keyakinan akan kebenaran dalam naluri pribadi.
Pa dha ja ya nya, kuat berseteru, membeber sang aku, tanpa lega mengalah akan sang liyan.
Ma ga ba tha nga, lagi pilu menyayat dua jasad. Meninggal raga, musnah dalam langkah sia-sia.

Sang Ajisaka, sang saka aji, sang tiang penyangga, sang aksara,
sang guru penuntun lampah laku.
Ia adalah aksara, ia adalah kata, ia adalah rangkaian kearifan pijak tertata.
Ia diadakan, menjadi ada, dan terus mengada guna menata adaan-adaan lainnya.

Et in terra pax hominibus…

Matur nuwun!


Semarang, 24 Juli 2011

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Rabu, 20 Juli 2011

Tahbisan Imam MSF di Gereja Keluarga Kudus Banteng, Selasa, 19 Juli 2011

Tahbisan Imam MSF di Gereja Keluarga Kudus Banteng,
Selasa, 19 Juli 2011

“Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu” (2 Kor 9:15)
Selasa, 19 Juli 2011, jam 09.30 dimulaikanlah perayaan Ekaristi Tahbisan Imam MSF (Missionarii a Sacra Familia) , yang dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, didampingi oleh Provinsial MSF, Rm. Agustinus Purnama, MSF dan Rektor Skolastikat MSF. Keluarga besar MSF mengajak kita semua untuk melambungkan “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu”(2 Kor 9:10)
Salam, doa 'n Berkah Dalem,
+ Johannes Pujasumarta







Tahbisan Imam MSF
Gereja Keluarga Kudus
Biara MSF
Selasa, 19 Juli 2011
Banteng, Yogyakarta

Syukur
Kepada Allah


atas karunia-Nya
yang tak terkatakan itu
Tuaian banyak

pekerja sedikit   

Mintalah kepada tuan
   
yang empunya
tuaian

Tahbisan Imam MSF:

Tahbisan Imam MSF
Di Gereja Keluarga Kudus Banteng
Selasa, 19 Juli 2011

 
 
“Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu” (2 Kor 9:15)

Selasa, 19 Juli 2011, jam 09.30 dimulaikanlah perayaan Ekaristi Tahbisan Imam MSF (Missionarii a Sacra Familia) , yang dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, didampingi oleh Provinsial MSF, Rm. Agustinus  Purnama, MSF dan Rektor  Skolastikat MSF.  Keluarga besar MSF mengajak kita semua untuk melambungkan “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu” (2 Kor 9:10).

Para diakon yang ditahbiskan adalah:

1.    Yasintus Liberatus Suyono, MSF
2.    Fransiskus Asisi Budiyono, MSF
3.    Adrianus Adi Nugroho, MSF
4.    Agustinus Eko Wahyu Krisputranto, MSF

Dalam kata dan nada mereka mengungkapkan pengalaman iman mereka, dan melantunkannya menjelang berkat perdana dari para imam baru:

Karunia yang tak terkatakan
Berkat melimpah di jalan panggilan kami
Kasih setiaMu, Bapa, tercurah selalu
Tegar berjalan walau penuh tantangan
Inilah aku, Bapa, utusan-Mu

Api berkobar dari hari ke hari
Medan misi menantikan kehadiran kami
Berkat rahmat-Mu Tuhan kam jawab panggilan
Dan kulambungkan syukur pujian

Syukur dan pujian atas karunia-Mu
Yang tak terkatakan, sungguh indah bagai-Mu
Di setiap waktu, di sepanjang hidupku
Allah kuwartakan, rahmat-Mu kubagikan

Proficiat bagi keluarga besar Tarekat Imam Misionaris Keluarga Kudus, Missionarii a Sacra Fanilia,  MSF ! Terimakasih, Rama Koko yang telah mengirimkan foto-foto tahbisan tersebut.

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Minggu, 17 Juli 2011

Di Penadaran Firdaus Ditemukan

GUA MARIA SENDANG JATI
Di Penadaran Firdaus Ditemukan



Di Penadaran Firdaus ditemukan pada hari Minggu, 17 Juli 2011, ketika diselenggarakan peristiwa iman pemberkatan gedung gereja wilayah Penadaran, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan.


Kita telah tahu, bahwa pada waktu kejadian dunia, Allah menciptakan semesta alam dengan firmanNya dalam waktu enam hari kerja.  Di atas bumi dibangun taman Firdaus. Segala makhluk diciptakan Allah: langit dan bumi, bulan dan bintang. Segala satwa diciptakan Allah untuk mengisi taman Firdaus itu. Pohon-pohon jati bisa mencapai usia lanjut, menjadi pohon perkasa yang disegani tanam-tanaman lain di taman Firdaus itu.


Segala yang diciptakan Allah baik adanya, namun manusia, perempuan dan laki-laki diciptakanNya sebagai makhluk yang amat baik, karena diciptakan menurut gambar Allah sendiri. Allah menganugerahkan akal budi, agar manusia mampu berfikir jernih; hati nurani dianugerahkanNya, agar manuria mampu menimbang-nimbang perkara, membeda-bedakan mana yang baik dan mana yang jelek. Kepada manusia, perempuan dan laki-laki itu, Allah menganugerahkan tubuh dengan banyak anggota:  kepala, dada, tangan dan kaki,  serta anggota-anggota lain yang kelihatan maupun yang tak kelihatan.

Konon, keutuhan alam semesta itu kemudian rusak, ketika manusia, perempuan dan laki-laki tidak lagi menggunakan akal budinya, tidak mau lagi mendengarkan suara hatinya. Dan karenanya, tubuh manusia dengan segala anggotanya rusak pula karena berlaku tidak selaras dengan kehendak sang Pencipta. Manusia mengumbar nafsu untuk merusak dan membinasakan sesama manusia, dan makhluk-makhluk lainnya. Dan ketika terjadi pembunuhan Allah bertanya kepada Kain, “Kain, di manakah adikmu?” Dari mulutnya keluar jawaban, “Aku tidak tahu di manakah adikku. Apakah aku penjaga adik?”


Meskipun taman Firdaus telah menjadi rusak, Allah masih melestarikan sumber-sumber air, agar manusia masih bisa bertahan hidup, walau musim kemarau berkepanjangan. Sumber-sumber air itu diberi nama oleh manusia: Sendang Wadon dan Sendang Lanang. Nama itu menjadi peringatan bagi manusia, bahwa oleh Allah manusia, perempuan dan laki-laki itu, diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupa Allah sendiri.

Pada waktu yang tepat, datang seorang di desa Penadaran, yang menyadari betul keistimewaan manusia, perempuan dan laki-laki itu, karena anugerah istiwewa yaitu akal budi, hati nurani, dan tubuh dengan segala anggotanya. Gerakan sederhana menyentuhkan ujung-ujung jari tangan pada dahi, dada dan kedua bahu memikat penduduk Penadaran.  Karena teladan hidupnya banyaklah penduduk Penadaran mengikuti gerakan sederhana yang dilakukannya. Gerakan itu dikenal dengan gerakan tanda salib.

Gerakan sederhana itu menjadi gerakan yang berdampak luas, sehingga dari hari ke hari semakin banyak orang dengan ketulusan hati berpartisipasi untuk menciptakan taman Firdaus di wilayah Penadaran. Pikiran, kehendak, ketrampilan dikerahkan untuk mewujudkan mimpi agar di Penadaran orang-orang zaman sekarang dapat menyaksikan lagi taman Firdaus yang pernah hilang dari muka bumi ini.



Minggu, 17 Juli 2011, menjadi hari bersejarah bagi penduduk Penadaran, karena hari itu dijadikan kesempatan untuk bersyukur atas terwujudnya mimpi memiliki gedung gereja, yang diberi nama Gereja Santo Paulus, Penadaran,  bagian dari paroki Santo Petrus Gubug, Grobogan, yang diresmikan menjadi Paroki pada hari Minggu, 17 Juli 2011, dalam perayaan Ekaristi pagi hari itu.

Di Penadaran telah ditemukan taman Firdaus, yang mulai dipulihkan kembali menjadi taman indah, Gua Maria Sendang Jati. Mimpi umat Katolik Penadaran hendaknya menjadi mimpi kita bersama, agar dari Penadaran kita memulihkan bumi ini menjadi bumi yang baru, dan langit ini menjadi langit yang baru.


Semarang, 17 Juli 2011

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang


Jumat, 15 Juli 2011

Syukur Atas 3 Tahun Tahbisan Uskup di Bandung

Syukur Atas 3 Tahun Tahbisan Uskup di Bandung
2008 – 16 Juli - 2011


 
Tabernakel Kapel Wisma Uskup
Jl. Bukit Shinta No. 16 Bukit Sari Semarang 50261





Hellooo!
Sekilas info: sejak Kamis, 14 Juli  s.d. Minggu, 17 Juli 2011 saya mengadakan perjalanan pastoral dalam rangka pelayanan sakramen penguatan. 

Kamis, 14 Juli, jam 08.30 kami (saya dan  mas Joko) meninggalkan Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) menuju Semarang. Setelah singgah di Wisma Uskup dan Kantor Pelayanan Pastoral, setelah makan siang kami meluncur  ke Jepara. Paroki Stella Maris, Jepara dilayani oleh Rama. Edy, MSF dan Rama Pranatasurya, MSF.  Jam 17.00 diselenggarakan perayaan Elaristi untuk  pelayanan sakramen penguatan. Seusai upacara kami bermalam di pastoran Jepara.

Jumat, 15 Juli 2011, pagi kami bersepakat untuk mengirimkan ornamen ukir-ukiran 5 roti dan 2 ikan untuk tabernakel kapel Wisma Uskup di Bukit Shinta, Semarang, sebagai tanda syukur atas 3 tahun tahbisan Uskup di Bandung, 16 Juli 2008.  Jumat pagi jam 08.00  ditemani Rm. Edy kami meluncur ke Juwana lewat panturan. Sesampai di Juwana kami singgah di Gua Maria Ratu Rosari Juwana. Setelah makan siang di pastoran dan istirahat di rumah Bapak Bejo almarhum,  sore jam 17.00 di gereja paroki Santa Maria La Salette Juwana, didampingi Rama Rinata, MSF dan Rama Rubidi, MSF kami merayakan Ekaristi untuk pelayanan sakramen penguatan. Seusai upacara lalu kami meluncur ke Pati, dan bermalam di pastoran.

 
Gua Maria Ratu Rosari Juwana

Sabtu sehari sampai malam di  Paroki Santo Jusup Pati direncanakan berbagai acara:  jam 08.00 kunjungan persaudaraan lintas agama di desa binaan, desa Kasihan Sukolilo, Pati di rumah Bapak Haji Zainuddin;jam 11.00 kunjungan di Kapel Langse dan ramah tamah. Jam 17.00 perayaan Ekaristi untuk pelayanan sakramen penguatan, yang dilanjutkan dengan ramah tamah sampai jam 21.30.  Seusai acara di Pati kami meluncur ke Gubug, dan bermalam di Gubug.         


Minggu, 17 Juli, jam  07.00 diselenggarakan perayaan Ekaristi untuk peresmian  paroki Gubug, dan pada 11.00 diadakan pemberkatan gereja stasi Penadaran. Siang hari kami  kembali Semarang. Demikianlah sekilas info.

Santa Maria, hamba Allah dan bunda Gereja, doakanlah kami.

Salam, doa 'n Berkah Dalem,

Pati, 16 Juli 2011. 
              
+ Johannes  Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Minggu, 10 Juli 2011

10 Juli 2008 – 10 Juli 2011: Aku mengucap syukur kepada Allahku

10 Juli 2008 – 10 Juli 2011:

 “Aku mengucap syukur kepada Allahku
setiap kali aku mengingat kamu”
(Fil 1: 1)

10 Juli 2008 : tiga tahun yang lalu pagi hari rombongan pengantar dari Semarang sampai di Green House, Jl. Jawa 26 Bandung 40113. Udara sejuk hari itu kuhirup dalam-dalam. Beberapa orang menyambut kedatangan kami, dengan wajah berseri  dan tangan terbuka. Kelelahan karena perjalanan dari tengah malam sampai pagi itu lenyaplah. Sejak hari itulah Bandung menjadi bagian dari hidupku, dan hidupku menjadi bagian dari Bandung.

10 Juli 2011 : tiga tahun sejak itu, saat ini aku berada di kamarku, Wisma Uskup, Jl. Bukit Shinta 16, Bukit Sari, Semarang 50261. Malam ini aku ingin mengenang kembali perjalanan itu, perjalanan dari Semarang ke Bandung, perjalanan dari Bandung ke Semarang, 6 Januari 2011, kira-kira 6 bulan yang lalu.

10 Juli 2008 – 10 Juli 2011: tiga tahun memuat berbagai peristiwa perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain. Perjumpaan dengan orang-orang menjadi kesempatan untuk menemukan makna kehidupan, karena kita berusaha untuk bertolak ke tempat yang dalam, di sana maupun di sini. Aku bersyukur kepada Tuhan, bisa berjumpa dengan orang-orang dalam perjalanan hidup ini, baik dalam dunia nyata maupun dalam dunia maya.

Dalam keheningan ini aku ingat kesaksian Santo Paulus yang disampaikan kepada umat Filipi 1:

3 Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. 4 Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. 5 Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. 6 Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. 7 Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil. 8 Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian. 9 Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, 10 sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, 11 penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah. 12 Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, 13 sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. 14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut. 15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. 16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, 17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. 18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita, 19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus. 20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. 21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. 23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus -- itu memang jauh lebih baik; 24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. 25 Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman, 26 sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu. 27 Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, 28 dengan tiada digentarkan sedikit pun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah. 29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, 30 dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.

Salam, doa ‘n Berkah Dalem,

Semarang, 10 Juli 2011

+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang